Minat Baca Warga Kepri Dinilai Masih Rendah

Kepala Dispusip Kepri Moh. Bisri menghadiri acara World Book Day 2026 di BI Kepri (foto: engesti/gokepri.co)

BATAM (gokepri.com) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi Kepulauan Riau menyoroti masih rendahnya minat baca masyarakat di daerah tersebut meski akses terhadap buku dan fasilitas perpustakaan terus bertambah.

Kepala Dispusip Kepri Moh. Bisri mengatakan rendahnya budaya membaca masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan penggunaan gawai.

Menurut dia, berbagai fasilitas pendukung literasi saat ini telah tersedia, mulai dari perpustakaan hingga koleksi buku yang semakin beragam. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan minat masyarakat untuk membaca.

“Perpustakaan sudah tersedia, buku juga banyak, tetapi minat membaca masih rendah. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, mulai dari keluarga, sekolah hingga pemerintah untuk membangun kembali kecintaan terhadap buku,” kata Bisri di Batam, dalam peringatan World Book Day 2026.

Ia menyebutkan indeks pembangunan literasi masyarakat di Indonesia masih berada pada kategori rendah. Kondisi itu menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama agar masyarakat memiliki budaya membaca yang lebih kuat.

Menurut Bisri, keluarga menjadi lingkungan pertama yang berperan penting dalam membentuk kebiasaan membaca. Karena itu, ia mendorong orang tua untuk mulai mengenalkan buku kepada anak sejak usia dini dan menciptakan suasana yang mendukung budaya literasi di rumah.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menyediakan pojok baca keluarga serta membiasakan anak menghabiskan waktu dengan membaca buku, bukan hanya menggunakan gawai.

“Budaya membaca harus dimulai dari rumah. Ketika anak-anak terbiasa berinteraksi dengan buku sejak dini, kebiasaan itu akan tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan mereka,” ujarnya.

Bisri menilai tantangan literasi saat ini semakin besar seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital yang kerap mengalihkan perhatian masyarakat, terutama generasi muda, dari aktivitas membaca.

Padahal, menurut dia, literasi memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar.

“Literasi menjadi kunci penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Tantangan kita saat ini adalah menurunnya minat baca, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak teralihkan oleh penggunaan gawai,” katanya.

Ia menambahkan, membaca tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi bekal bagi masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

Kemampuan literasi yang baik dinilai dapat membantu masyarakat memilah informasi yang benar, sekaligus melindungi diri dari hoaks dan berbagai bentuk manipulasi informasi yang semakin mudah ditemukan di media sosial.

“Literasi adalah fondasi kemajuan bangsa. Dengan membaca, kita tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melindungi diri dari berbagai bentuk manipulasi informasi,” ujar Bisri.

Pemerintah juga mengajak seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga dunia usaha, untuk bersama-sama mendorong lahirnya generasi yang gemar membaca, kritis, dan berdaya saing.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait