Batam (gokepri.com) – Sepasang meriam kuno peninggalan Belanda ditemukan di Pulau Buluh, Kota Batam. Senjata perang berukuran besar dan berbentuk tabung itu merupakan saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia saat melawan penjajah.
Camat Belakang Padang, Yudi Admaji mengatakan menurut sejarah dua meriam itu awalnya ditemukan di Pulau Buluh. Kemudian, sekitar tahun 1980-an di bawa ke Belakangpadang sebagai Ibu Kota Kecamatan Batam pada tahun tersebut.
“Waktu itu Camatnya Bapak Mustafa Saleh. Meriamnya diletakan di Kantor Camat lama, pada tahun 1992 Kantor Camat Belakangpadang dibangun,” kata Yudi, Jumat (25/12/2020).
Kemudian kepemimpinan Camat Bapak Said Hasyim meriam ini dipindahkan ke Pulau Sekanak. Sejak saat itu meriam bersejarah ini kokoh mengapit tiang Bendera Merah Putih Kantor Kecamatan Belakangpadang.
Karena merupakan salah satu benda bersejarah, meriam tersebut saat ini telah dipindahkan ke museum Batam Raja Ali Haji. Menurut dia hal ini menjadi catatan sejarah bahwa Belakang Padang mempunyai peran penting dalam sejarah pembangunan Kota Batam.
Selama 40 tahun berada di Belakangpadang sepasang meriam itu tetap terjaga dengan baik. Adanya museum membuat pihaknya termotivasi mencari benda sejarah lainnya di Belakangpadang. Sehingga diharapkan makin banyak masyarakat Kota Batam mengetahui tentang sejarah Belakang Padang.
“Seperti kantor camat pertama dulu kami akan telusuri,” katanya.

Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Belakangpadang telah menghibahkan meriam bukti perjuangan pahlawan dahulu melawan penjajah. Meriam tersebut langsung diletakkan di tata pamer tepatnya di Khazanah Masa Belanda.
“Kita terus berupaya mengisi Museum Batam Raja Ali Haji, kita bersyukur hari ketujuh setelah diresmikan kita mendapat meriam dari Belakang Padang,” kata Ardi.
Selain menjadi destinasi wisata budaya, Museum Batam Raja Ali sebagai tempat edukasi bagi pelajar di Kota Batam khususnya dan umumnya Kepri. Setelah diresmikan bertepatan Hari Jadi Batam (HJB) Ke-191 Tahun Jumat (18/12) kemarin, pengunjung terus berdatangan, mulai remaja, dan orang tua.
Ardi menuturkan, Museum Raja Ali Haji sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia. Isi dari museum ini, menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Kepri.
“Kemudian juga Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang,” kata Ardi. (ARD)









