Oleh: Dr. (Cand) Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen Pendidikan Agama Islam Institut Teknologi Indobaru Nasional dan Guru PAI SMKN 1 Batam
Di tengah derasnya arus modernisasi dan percepatan teknologi, manusia sering kali kehilangan arah. Kesibukan yang padat, ambisi yang tinggi, dan kompetisi tanpa henti terkadang membuat manusia lupa bertanya: Untuk apa aku hidup? Apa tujuan keberadaanku?
Al-Qur’an menegaskan kemuliaan manusia: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)
Allah juga berfirman: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadiannya) dan Aku tiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku…” (QS. Al-Hijr: 29)
Islam menjawab secara tegas tentang tujuan hidup manusia: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain sebagai hamba, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah menegaskan tentang pertanggungjawaban amal: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Eksistensi manusia menurut Islam bukan sekadar ada, tetapi mengabdi dan bermakna. Manusia adalah hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Ia memiliki kebebasan, tetapi juga tanggung jawab. Ia hidup di dunia, tetapi menuju akhirat.
Semoga kita termasuk manusia yang memahami tujuan hidupnya, menguatkan iman, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Wallahu a’lam bish-shawab. ***








