JAKARTA (gokepri) – Audit energi pada 13 pabrik berbagai sektor menunjukkan peluang efisiensi listrik yang signifikan. Program Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) mencatat potensi penghematan hingga 49 juta kWh per tahun, setara penurunan biaya operasional sekitar Rp24 miliar.
Temuan ini memberi sinyal kuat bahwa industri memiliki ruang besar untuk menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi. Temuan tersebut disampaikan Peneliti Senior Spesialis Efisiensi Energi World Resources Institute (WRI) Indonesia, Caesar Bayu Kusuma, dalam Diskusi dan Paparan Hasil Audit Energi di Industri dan Konsumsi Energi Bangunan Gedung di Jakarta, Kamis 27 November 2025.
SETI merupakan program kerja sama bilateral Indonesia–Jerman hingga 2028 yang mendorong efisiensi energi dan teknologi rendah karbon melalui audit, pelatihan, pendampingan teknis, serta dukungan kebijakan.
Caesar menjelaskan, audit dilakukan pada lima pabrik dan asesmen teknis pada delapan pabrik lainnya. Dari total konsumsi 854 juta kWh per tahun, peluang efisiensi mencapai 49 juta kWh atau cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 42.000 rumah selama satu tahun. Potensi itu juga mampu menekan emisi 31.000 hingga 35.000 ton CO2 per tahun.
Sebagian besar peluang efisiensi ditemukan pada sistem kompresor, chiller, dan sistem uap yang masih menggunakan teknologi lama atau belum dijalankan secara otomatis. “Ini berdampak langsung pada efisiensi biaya, keselamatan operasi, dan kualitas lingkungan kerja,” ujar Caesar.
Audit merekomendasikan beberapa tindakan yang dapat segera diterapkan industri. Di antaranya otomasi kompresor, pemanfaatan panas buang, perbaikan kebocoran pipa, serta penggantian pemanas listrik dengan heat pump yang lebih hemat energi. Langkah-langkah ini dinilai dapat menghasilkan penghematan cepat tanpa memerlukan investasi besar.
Efisiensi energi di sektor industri menjadi salah satu elemen penting dalam upaya mencapai target pengurangan emisi dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030 melalui bauran energi bersih dan perbaikan efisiensi di sektor manufaktur. Temuan audit SETI memperkuat bahwa kontribusi industri dapat dicapai melalui perbaikan operasional yang relatif sederhana.
Meski menawarkan penghematan besar, sebagian pabrik menghadapi tantangan implementasi terkait investasi awal dan modernisasi peralatan. Namun, menurut SETI, respon awal industri cukup positif mengingat efisiensi berpotensi menekan biaya energi yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
SETI berupaya memperluas cakupan audit dan meningkatkan kapasitas teknis industri melalui pelatihan serta penyusunan panduan kebijakan. Hingga 2028, program ini menargetkan lebih banyak pabrik mengadopsi teknologi rendah karbon dan manajemen energi yang lebih efisien.
Program ini menjadi salah satu instrumen penting dalam mempercepat transisi energi Indonesia dan menjaga daya saing industri di tengah tekanan global terhadap efisiensi dan keberlanjutan. ANTARA
Baca Juga: Jerman-Kementerian ESDM Jadikan Batam Model Kota Transisi Energi dan Rendah Karbon
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








