“Mak, Awak Alah Mudik, Mak…”

Fery Heriyanto. (istimewa)

Cerpen: Fery Heriyanto

Dahulu, nama Rambun begitu melekat di kepala orang-orang di Kampung. Bukan karena baiknya, tapi kenakalannya. Dia sangat suka membuat orang-orang marah.

Jika disebut nama Rambun, yang langsung terbayang adalah kelakuannya. Meski dia selalu dijauhi orang-orang kampung, namun ada juga yang mau bergaul dengannya.

Jika Rambun sudah berkumpul dengan kawan-kawannya, maka dipastikan akan ada warga yang teriak. Ada yang mengeluh ayamnya yang hilang, kelapanya yang hilang, ikan di tambaknya yang berkurang, dan lain sebagainya.

Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, dengan berbagai argumen dia mengelak semua sangkaan warga. Sementara dari beberapa kejadian, ada warga melihat langsung jika pelakunya Rambun dan kawan-kawannya. Tapi, saat tuduhan langsung diarahkan pada dia, Rambun dkk tetap tidak mengaku. Tidak jarang dia marah jika dikatakan sebagai pelaku.

Setiap ada kejadian seperti itu, saat itu pula warga melaporkan pada keluarganya. Namun, Rambun tetap mengelak.

Berbagai nasehat sudah disampaikan. Baik dari kakak-kakaknya, pamannya, termasuk dari sang ibu, tapi, kelakukan Rambun tidak berubah. Bahkan, saat dia didesak untuk minta maaf pada warga, tidak jarang dia marah dan mengamuk. Bahkan dengan nekat dia menantang warga yang merasakan dirugikan oleh kelakuannya.

Pernah suatu hari, ibunya sangat sedih saat ada warga mengadu jika buah mangganya hendak dijual pada pembeli, tiba-tiba paginya sudah hilang. Menurut warga itu, Rambun dan kawan-kawannya mencuri mangga itu saat malam.

Dengan memohon, sang ibu minta maaf dan mengganti buah mangga yang dicuri anaknya dengan uang yang ada padanya.

***

Ads bp batam 2026 baru

Sejak Rambun menghilang dari kampung hampir delapan tahun terakhir, warga sudah tenang. Tidak ada lagi sumpah serapah warga. Jarang terdengar orang kehilangan atau ada kejadian yang membuat warga jengkel. Jika pun ada, sifatnya hanya kecil. Warga pun berkata, “Itu kroco-kroconya si Rambun!”

Menghilangnya Rambun tidak dipusingkan warga. Sebaliknya, warga senang. Bahkan banyak yang mengatakan, lebih baik pria itu tidak ada di kampung.

“Lebih damai kampung ini tanpa dia!”

Ungkapan seperti itu sedikit banyak sampai juga ke telinga keluarganya. Bagi saudara-saudara Rambun, apa yang disampaikan warga itu dimakluminya. Namun, bagi sang ibu, Mak Utih, hal itu menjadi kesedihan mendalam. Rambun telah menorehkan catatan buruk bagi keluarga besarnya.

Di balik menghilangnya Rambun, beredar kabar jika dia sudah merantau ke sejumlah kota. Namun, tidak banyak yang tahu persisnya dimana dia berada.

Menurut beberapa orang rantau yang pulang kampung, dia pernah berjumpa Rambun di terminal bis. Lalu, ada juga yang mengatakan jika Rambun pernah dilihatnya di emperan toko tengah menggelar dagangannya. Kemudian ada juga yang menginformasikan jika Rambun dijumpainya di sebuah rumah makan.

“Namun, saat saya ajak ngobrol, dia banyak mengelak. Di lain hari, saya ajak lagi ngobrol, dia mengatakan lagi sibuk. Sejak itu, saya tak pernah lagi melihat dia,” ujar salah seorang warga yang mudik Lebaran tahun lalu.

Di lain waktu, pernah juga seorang warga kampong sempat bertemu Rambun di salah satu pasar di kota rantau. Dikatakannya, di situ Rambun seperti jadi karyawan toko kelontong.

“Waktu kami bersua, dia seperti malu. Tapi awak coba juga untuk berbincang dengan dia. Namun, dia tidak begitu antusias untuk berbincang dengan awak. Sekitar 12 menit kami mengobrol, tiba-tiba dia minta izin pergi,” ujarnya.

“Lain waktu awak juga lewat tempat dia. Kami hanya saling melambaikan tangan,” tambahnya lagi.

Hal serupa juga disampaikan teman Rambun semasa sekolah. Menurutnya, waktu dia berjumpa dengannya, Rambun selalu mengelak untuk diajak bicara.

“Ambo pun tak mau memaksa dia untuk bicara,” terangnya.

Begitulah, meski berjumpa dengan sejumlah warga kampungnya, Rambun tidak pernah berkirim kabar pada keluarganya. Dia bagai melepaskan diri dari keluarga, orang-orang dekatnya, termasuk dengan orang-orang kampungnya. Dia menyepi!

Mak Utih beberapa kali meminta anak-anaknya yang lain untuk mencari tahu keberadaan Rambun. Tapi, rata-rata enggan.

“Biarlah dia pergi dahulu, Mak. Kalau sudah taragak pulang, dia pasti balek,” ujar kakak perempuan Rambun.

“Iya, Mak, itu lebih baik untuknya dan juga keluarga kita,” timpal yang lain.

Mak Utih terdiam mendengar perkataan anak-anaknya itu.

“Amak paham dengan apa yang kalian pikir dan rasakan. Tapi, Amak selalu memikirkan adik kalian itu. Cukup lama rumah ini langang sejak dia pergi,” ucap Mak Utih kemudian.

“Amak khawatir jalan ke rumah ini marimbo bagi dia. Rumput menjadi ilalang. Tangga ke rumah ini sudah berlumut. Amak tak mau dia marantau cino. Amak tak mau kerinduan Amak berbuah air mata,” tutur Mak Utih melanjutkan.

“Amak sudah taragak bana melihatnya. Apapun dia dahulu, dia tetap anak Amak juga,” lirihnya.

“Hari ini, Amak tak peduli kondisinya, apakah dia mendapat hujan emas di rantau orang, atau hujan batu, Amak berharap dia manyilau rumah ini,” tambahnya dengan suara bergetar.

“Amak merasa rumah ini begitu langang tanpa suaranya,” tambah Mak Utih seraya berjalan menuju biliknya.

Sekitar dua bulan lalu, tersiar kabar jika orang rantau akan melakukan Pulang Basamo lebaran ini. Mereka yang akan mudik itu berasal dari kota besar. Menurut informasi pula, Rambun ada di kota itu.

“Semoga saja adikmu ikut pulang,” ucap Mak Utih pada salah seorang anaknya.

“Amak sudah taragak sama dia. Sudah lama dia pergi. Selama itu pula Amak ingin melihatnya,” ucap Mak Utih dengan tatapan jauh di depan jendela rumah.

Dua hari jelang orang rantau itu Pulang Basamo, tersiar kabar jika ada sekitar lima bis yang akan membawa orang rantau pulang kampung. Mereka diperkirakan tiba sekitar pukul 02.30 WIB dinihari di halaman kantor desa.

Tepat dihari yang ditunggu, Mak Utih sudah tiba di kantor desa beberapa jam sebelum kedatangan bis. Suasana ramai oleh sanak keluarga yang menjemput anak, kemenakan, sanak saudaranya yang mudik.

“Pulanglah, nak…taragak bana amak…” gumam wanita tua itu sembari melihat-lihat setiap orang yang turun dari bis.

Hingga sebagian besar orang sudah pulang, Rambun yang ditunggu Mak Utih tidak juga tampak. Lima bis itu pun sudah meninggalkan halaman kantor desa. Mak Utih akhirnya pulang.

Belum beberapa jauh wanita tua itu melangkah, tiba-tiba seorang anak muda mengejarnya.

“Mak, ada titipan surat dari Rambun. Rencananya dia mau pulang, tapi, saat bis akan berangkat, dia hanya titipkan surat ini.”

Sesampai di rumah, Mak Utih membuka surat dari anaknya itu.

“…Assalamualaikum, Mak. Awak doakan Amak sehat selalu.
Maaf, awak alun bisa pulang kiniko. Awak lai taragak pulang, awak taragak bana samo Amak, tapi, awak malu. Awak alah mambuek Amak susah, malu, jo sadiah maliek kelakuan awak salamo di kampuang dahulu. Lai awak kuekan hati ko untuk pulang, tapi, awak alun siap untuk basuo samo urang kampuang.

Mak, masih tangiang di talingo awak katiko awak pai dari rumah. Amak bukannyo berang ka awak, tapi, Amak mandoakan semoga awak baliak ka jalan yang batua. Alhamdulillah, doa Amak itu alah mulai babuah. Awak kini indak seperti dahulu. Lambek-lambek awak alah sesuai dengan doa Amak. Tarimo kasih, Mak. Awak selalu taringek doa Amak…

Mak, hari rayo ko memang awak indak pulang ka kampuang. Tapi, yakinlah, Mak, awak alah Mudik seperti doa yang Amak panjatkan di setiap doa dan tahajud Amak…

Mak, awak mangirim saketek pitih dalam amplop surek ko untuk pambali mukena Amak sumbayang rayo….Salamaik rayo, Mak…Maaf lahir batin…Maafkan awak yo, Mak.. Namo Amak ado taruih dalam doa awak…sehat-sehat Amak di kampuang yo…

Wassalamualaikum…”

Mak Utih tercengung. Kepalanya tertunduk sembari mendekap surat dan uang kiriman Rambun. Tidak berapa lama kemudian Sholawat Tarhim Subuh menggema dari pengeras suara masjid di kampung itu. ***

Perumahan Cendana Batam, Jelang Idul Fitri 1444 H/2023

 

*) Fery Heriyanto, Alumni Fakultas Sastra (Budaya) Universitas Sumatera Utara (USU) Medan 

Pos terkait