Kotak Hitam Jeju Air Dikirim ke Amerika Serikat

kotak hitam jeju air
Pelayat menyampaikan penghormatan di altar peringatan untuk para korban kecelakaan pesawat Jeju Air, di depan Balai Kota Seoul pada 31 Desember 2024. FOTO: AFP

SEOUL (gokepri) — Penyelidik Korea Selatan, yang menyelidiki kecelakaan pesawat Jeju Air yang menewaskan 179 orang, menyatakan pada 1 Januari mengirimkan salah satu kotak hitam ke Amerika Serikat untuk dianalisis. Kecelakaan ini merupakan tragedi penerbangan terburuk di Korea Selatan.

Pesawat yang membawa 181 orang dari Thailand menuju Korea Selatan itu sempat mengirimkan panggilan darurat (mayday). Pesawat kemudian mendarat darurat dengan posisi perut pesawat menyentuh landasan (belly landing), sebelum akhirnya menabrak penghalang dan terbakar. Hanya dua pramugari yang selamat dalam insiden pada 29 Desember 2024 tersebut.

Sejak kejadian, tim penyelidik dari Korea Selatan dan Amerika Serikat, termasuk perwakilan dari Boeing, telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Muan, barat daya Korea Selatan.

HBRL

“Perekam data penerbangan yang rusak tidak dapat dipulihkan datanya di dalam negeri,” kata Wakil Menteri Penerbangan Sipil Korea Selatan, Joo Jong-wan, 1 Januari 2025.

“Hari ini telah disepakati untuk mengirim perekam tersebut ke Amerika Serikat untuk dianalisis, bekerja sama dengan Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB),” lanjutnya.

Baca Juga:
Tragedi Pesawat Jeju Air, 179 Penumpang Tewas

Joo sebelumnya mengonfirmasi bahwa kedua kotak hitam pesawat telah ditemukan. “Ekstraksi awal data dari perekam suara kokpit telah selesai,” ujarnya.

“Berdasarkan data awal ini, kami akan mulai mengonversinya ke format audio,” kata Joo. Dengan demikian, penyelidik dapat mendengarkan komunikasi terakhir pilot.

Namun, kotak hitam kedua, yaitu perekam data penerbangan, “ditemukan dengan konektor yang hilang,” kata Joo. “Para ahli sedang meninjau untuk menentukan cara mengekstrak datanya.”

Awalnya, para pejabat menduga serangan burung sebagai penyebab kecelakaan. Namun, penyelidikan juga akan memeriksa penghalang beton di ujung landasan pacu. Video dramatis menunjukkan Boeing 737-800 itu menabrak penghalang tersebut sebelum terbakar.

Inspeksi khusus juga dilakukan terhadap semua model Boeing 737-800 yang dioperasikan maskapai lokal. Inspeksi ini fokus pada roda pendaratan, menyusul dugaan adanya kerusakan mekanis.

“Pemeriksaan berfokus pada roda pendaratan, yang gagal berfungsi dengan baik dalam kecelakaan ini,” kata Yoo Kyeong-soo, Direktur Jenderal Kebijakan Keselamatan Penerbangan.

Baca Juga:
Pesawat Jeju Air Kecelakaan, Tergelincir dan Terbakar di Bandara Muan

Media lokal melaporkan roda pendaratan berfungsi normal pada upaya pendaratan pertama Penerbangan Jeju Air 2216 di Bandara Muan. Namun, roda pendaratan gagal berfungsi pada upaya kedua.

Kementerian Pertanahan, yang mengawasi penerbangan sipil, menyatakan masalah ini “kemungkinan akan diperiksa oleh Dewan Investigasi Kecelakaan melalui tinjauan komprehensif terhadap berbagai kesaksian dan bukti.”

Seluruh Korban Teridentifikasi

Keluarga korban di Bandara Muan sempat frustrasi dengan lambatnya proses identifikasi dan penyerahan jenazah. Pejabat menjelaskan bahwa kondisi jenazah yang rusak parah menyulitkan proses identifikasi.

Namun, Pelaksana Presiden Choi Sang-mok mengumumkan pada 1 Januari bahwa proses identifikasi telah selesai. Sebagian jenazah telah diserahkan kepada keluarga.

“Semalam, identifikasi seluruh 179 korban telah selesai,” kata Choi.

“Penyelidik kami, bersama NTSB dan pabrikan pesawat, melakukan investigasi gabungan untuk mengungkap penyebab kecelakaan,” ujarnya dalam rapat penanganan bencana pada 1 Januari.

“Analisis menyeluruh terhadap struktur pesawat dan data kotak hitam akan mengungkap penyebab kecelakaan,” tambahnya.

Baca Juga:
Lion Group dan Jeju Air Akan Layani Penerbangan Batam-Incheon

Penyelidik AS tiba pada 30 Desember 2024 dan langsung menuju Muan. Penyelidikan awal di lokasi kejadian berfokus pada sistem navigasi pendaratan pesawat, yang disebut localiser.

Localiser yang terpasang pada struktur beton di Bandara Muan diduga memperparah kecelakaan.

Pesawat tersebut membawa wisatawan yang kembali dari liburan akhir tahun di Bangkok. Seluruh penumpang berkewarganegaraan Korea, kecuali dua warga Thailand.

Informasi lebih lengkap mengenai detik-detik terakhir penerbangan akan diungkap setelah analisis kotak hitam selesai. Mimbar duka telah didirikan di seluruh Korea Selatan, termasuk di Seoul dan Bandara Muan. AFP

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait