BATAM (gokepri) – PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM), anak usaha PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) menargetkan pabrik kedua di Batam beroperasi 2025, tingkatkan kapasitas hingga 70.000 ton per tahun. Fokus memenuhi kebutuhan domestik, RTM perkuat posisi di industri migas.
“Harapan kami, pada kuartal ketiga 2025, plant kedua ini akan beroperasi secara komersial,” ujar Direktur Komersial dan Bisnis RTM, Barkeilona, dalam kunjungan media di Batam, Kepulauan Riau, Rabu 20 November 2024.
Pabrik kedua tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 40.000 ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp300–Rp400 miliar. Menurut Barkeilona, biaya pembangunan pabrik membengkak akibat kenaikan harga mesin yang sebelumnya tidak terprediksi.
Saat ini, RTM memproduksi sekitar 25.000–30.000 ton pipa per tahun. Jika pabrik kedua beroperasi, total kapasitas produksi akan meningkat menjadi 70.000 ton per tahun.
Baca: PGN Raup Laba Bersih Rp1,31 Triliun Didorong Kenaikan Lifting Migas
RTM merupakan satu-satunya produsen pipa seamless atau Oil Country Tubular Goods (OCTG) di Indonesia yang telah tersertifikasi API 5CT (Casing and Tubing) dan API 5L (Line Pipe). Produk ini digunakan sebagai penunjang industri minyak dan gas (migas).
Barkeilona menyebutkan setelah plant kedua selesai, kapasitas produksi RTM akan meningkat menjadi 60.000–70.000 ton per tahun. Ia berharap pabrik kedua dapat memenuhi kebutuhan domestik yang diprediksi meningkat seiring rencana pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak. Kapasitas tambahan ini juga memungkinkan RTM kembali melayani kebutuhan ekspor, yang sejak 2023 dihentikan untuk memprioritaskan pasar domestik.
“Kami ingin memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu. Namun, di masa depan, kapasitas tambahan ini memungkinkan ekspor kembali,” tambahnya.
Barkeilona juga menegaskan komitmen RTM untuk terus meningkatkan kualitas, keselamatan kerja, dan menjalankan operasi dengan prinsip keberlanjutan sebagai tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.
“Mari kita tunjukkan cinta pada produk dalam negeri dengan meningkatkan penggunaannya,” ujarnya.
Baca: Proyek Pipa Gas Natuna-Rempang Beroperasi 2028
Sejak 2018, RTM terus meningkatkan pasokan pipa untuk kebutuhan domestik. Pada 2018, produksi mencapai 8.000 ton, lalu 7.500 ton pada 2019, dan turun menjadi 5.000 ton pada 2020. Pada 2021, produksi kembali meningkat menjadi 14.000 ton, 15.500 ton pada 2023, dan hingga Oktober 2024 telah mencapai 17.500 ton.
Sebelum memprioritaskan pasar domestik, RTM pernah mengekspor produknya ke Rusia, Kanada, dan Houston, Amerika Serikat. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk RTM kini mencapai lebih dari 40 persen.
Sepanjang 2023, distribusi produk RTM didominasi oleh Subholding Upstream Pertamina sebesar 73 persen, Pertamina Hulu Rokan 15 persen, pasar luar negeri 10 persen, dan sisanya 2 persen untuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lainnya.
Barkeilona menjelaskan pipa seamless buatan RTM digunakan untuk operasional sejumlah KKKS, seperti Pertamina EP, Pertamina Hulu Rokan (PHR), Medco E&P Indonesia, PetroChina, dan Energi Mega Persada (EMP). Untuk tahun 2024, RTM berkomitmen sepenuhnya memasok kebutuhan pasar domestik dan menghentikan produksi untuk ekspor.
“Komitmen kami pada 2024 adalah memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik,” pungkasnya. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








