Kasus Pinjol Kian Marak, Masyarakat Diminta Hati-Hati

Aplikasi Pinjaman Online
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Batam (gokepri.com) – Kasus Pinjaman Online (Pinjol) kian marak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta berperan aktif menindak aplikasi pinjol.

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam Utusan Sarumaha meminta masyarakat Kota Batam untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi online khususnya pinjaman online. Sebab, bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga keluarga, kerabat dan lainnya.

Menurut dia, sebelum tergiur dengan penawaran peminjaman online, masyarakat diminta untuk wajib melakukan pengecekan legalitas oknum pinjol yang beredar.

“Di sini peran aktif OJK sangat dibutuhkan dalam menjalankan fungsi pengawasannya. Jika memang ada oknum pinjol ilegal yang tak terdaftar dan bahkan tidak sesuai dengan norma-norma yang seharusnya, segeralah untuk memprosesnya dengan tegas. Sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi konsumen dan masyarakat,” jelas Utusan, Minggu (17/10),

Utusan menyebut, Pinjol online yang tidak jelas latar belakangnya terbilang kejam terhadap para nasabahnya, sebab karena ketidaktahuan nasabah akan pinjol, membuat oknum pinjol ilegal bertindak semena-mena.

Ia mencontohkan, biasanya pinjol ilegal memberikan beban yang tinggi dengan bunga di atas batas wajar.

Selain itu, para oknum pinjol yang tidak resmi juga juga meneror nasabah dengan kata-kata yang tidak baik.

“Masyarakat harus bisa manahan diri terhadap tawaran yang diberikan dan harus mempelajari aturan-aturan terkait sebelum melakukan transaksi itu. Pinjol ini benar-benar sangat meresahkan. Bukannya menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah baru,” papar Utusan.

Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Sri Langgeng Ratnasari mengatakan tingginya angka kasus pinjol tersebut bisa dipengaruhi oleh Pandemi COVID-19.

Menurut Sri, masyarakat kesulitan dalam memperoleh pekerjaan dan penghasilan, di saat banyaknya oknum pinjol yang menawarkan solusi berupa pinjaman uang dengan proses yang mudah dan cepat.

Selama ini, masyarakat menganggap pinjol menjadi solusi cepat untuk menyelesaikan masalah keuangan namun banyak yang belum mengetahui dampak yang ditimbulkan.

“Alih-alih menyelesaikan masalah, malah justru merugikan diri sendiri,” paparnya.

Lanjut, ia menjelaskan biasanya, usia 30 tahun ke atas merupakan usia yang rentan untuk terkena kasus pinjol ilegal, sebab banyak kebutuhan yang harus dipenuhi disaat peluang untuk memperoleh penghasilan semakin sempit oleh dampak pandemi COVID-19.

“Korban biasanya memiliki kendala kebutuhan dan tidak mempunyai kemampuan menejemen keuangan yang baik serta tidak menerapkan skala prioritas. Ironinya, masyarakat masih banyak yang mendahulukan gaya hidup (keinginan) dibandingkan pemenuhan kebutuhan. Seperti ponsel canggih, mobil mewah dan lain sebagainya,” tuturnya.

Selain pandemi, tingginya kasus pinjol yang kian marak juga dipengaruhi pada tingkat inkusi dan literasi keuangan yang merupakan tugas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pasalnya, tingkat inkulusi dan literasi keuangan yang baik, akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“Dengan kian maraknya kasus tersebut, semoga semakin dapat mendorong OJK untuk melakukan sosialiasi-sosialisasi terkait peningkatan inklusi dan literasi keuangan kepada masyarakat,” ucapnya.

Untuk diketahui, masyarakat dapat melakukan pengecekan legalitas pinjol melalui website resmi OJK di www.ojk.go.id dengan memilih menu IKNB lalu pilih Fintech dibagian kanan bawah. Ataupun menghubungi nomor 157. (Engesti Fedro)

|Baca Juga: Aplikasi Pinjaman Online Ilegal: Pagi Diblokir, Sore Ganti Nama

BAGIKAN