Kasus Aktif di Batam Mulai Menurun

Data perkembangan kasus Covid-19 di Kota Batam per 31 Juli 2021.
Data perkembangan kasus Covid-19 di Kota Batam per 31 Juli 2021.

Batam (gokepri.com) – Kasus aktif Covid-19 di Kota Batam mulai menurun dalam beberapa hari terakhir. Penurunan juga disertai semakin berkurangnya kasus baru positif Covid-19 harian.

Pada 18 Juli lalu, puncak kasus harian, terdapat penambahan 523 kasus baru positif Covid-19 dalam sehari. Penambahan ini menjadikan kasus aktif mencapai 3.310 orang atau 17,14 persen.

Pada Sabtu (31/7/2021), kasus baru positif Covid-19 hanya bertambah 170 kasus. Terdiri dari 140 kasus bergejala, 25 tanpa gejala, dan 5 kasus kontak.

“Data ini merupakan hasil pemeriksaan swab oleh Tim Analis Laboratorium BTKL PP dan Analis Laboratorium RSKI Covid-19 Galang berdasarkan hasil temuan kasus baru dan hasil tracing,” Ketua Bidang Kesehatan Gugus Tugas Covid-19 Batam, Didi Kusmarjadi, dalam keterangan tertulisnya.

Sementara jumlah kasus aktif turun menjadi 2.445 orang atau sekitar 10,52 persen dari total 23.238 kasus positif Covid-19. Sebanyak 20.177 atau 86,82 persen di antaranya sembuh dan 616 orang meninggal.

Jumlah kasus aktif terbanyak ada di Kecamatan Batam Kota dengan 728 kasus. Kemudian Kecamatan Sagulung 447 kasus, Sekupang 358 kasus, Bengkong 217 kasus, Batuaji 199 kasus, Seibeduk 145 kasus, Nongsa 127 kasus, dan Lubukbaja 134 kasus. Sedangkan Kecamatan Batuampar tinggal 46 kasus aktif, Belakangpadang 20 kasus, Galang 18 kasus, dan Bulang 6 kasus.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mendorong para camat untuk menginstruksikan kelurahannya membentuk Pos Komando (Posko). Menurutnya, Posko Desa/Kelurahan ini sangat penting dalam pertolongan pertama bagi masyarakat yang positif Covid-19. Penanganan yang baik di tahap awal dan sedini mungkin dapat menyelamatkan nyawa pasien dan mencegah terjadinya kasus kematian karena melakukan penanganan di tingkatan terkecil.

Keberadaan posko ini diatur dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No. 24 dan 26 Tahun 2021. Dan dalam pembentukan posko, ada peran penting dari camat setempat untuk menginstruksikan desa/kelurahan untuk membentuk posko.

“Untuk itu perlu penguatan ekstra pada pelaksanaan PPKM Mikro di wilayahnya. Yang terpenting adalah penanganan Covid-19 sedini mungkin serta pengawasan dan penindakan protokol kesehatan. Dan kunci keberhasilan kedua hal ini, adalah pelaksanaan kinerja posko sesuai tugas dan fungsinya,” kata Wiku.

Data menyebutkan, per 25 Juli 2021 baru sebesar 27 persen desa/kelurahan di Indonesia yang membentuk posko. Dan masih terdapat 58.687 atau 72,93 persen desa/kelurahan yang belum membentuk posko. Dan ini artinya sebagian besar wilayah ternyata belum melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dengan baik. (zak)

BAGIKAN