Jutaan UMKM Bangkrut Akibat Pandemi Covid-19

umkm tanjungpinang 2021
Pekerja UMKM pengolahan daging rajungan di Kota Tanjungpinang, Kepri. ANTARA/Ogen

Jakarta (gokepri.com) – Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak sektor usaha berguguran, termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Berdasarkan empat kali survei yang dilakukan Komunitas UMKM Naik Kelas, jumlah UMKM yang gulung tikar meningkat signifikan.

Ketua Komunitas UMKM Naik Kelas, Raden Tedy, mengatakan berdasarkan survei dan kajian pada UMKM pada April 2020 atau saat pandemi Covid-19 merebak, 83% UMKM berpotensi bangkrut. Dilanjutkan pada bulan Juli 2020 atau era normal baru, pihaknya kembali merilis hasil survei dan kajian bahwa ada perbaikan, di mana UMKM yang berpotensi gulung tikar turun menjadi 43%.

“Pada Maret 2021 kembali kami keluarkan hasil survei dan kajian, ada 5,4% atau 3,5 juta pelaku UMKM yang sudah bangkrut dan 34,8% UMKM yang masih berpotensi bangkrut,” ujar Tedy dalam konferensi pers virtual Komnas UKM di Jakarta, Rabu (22/9/2021).

Survei keempat dilakukan pada bulan Agustus 2021, yang hasilnya dirilis pada September ini. Terdapat 19% UMKM yang sudah gulung tikar atau 11 juta UMKM yang sudah tutup usahanya dan masih ada 21,4% UMKM yang berpotensi gulung tikar.

“Jika dilihat dari satu tahun pandemi, hasil survei kami di bulan Maret dan Agustus ada kesamaan, yaitu total yang berpotensi bangkrut dan sudah bangkrut sama-sama 40%. Bedanya, ada kenaikan signifikan UMKM yang sudah bangkrut,” tuturnya.

Tedy lantas membandingkan kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 ini dengan krisis moneter (krismon) 1998. Menurut dia, pada tahun 1998 UMKM menjadi pahlawan ekonomi, tapi juga ada yang gulung tikar kala itu. Data BPS menunjukkan bahwa 7,42% UMKM yang gulung tikar saat krisis 1998.

“Dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi Covid-19 lebih parah terhadap UMKM dibandingkan krisis moneter 1998,” tukasnya. (wan)

Baca juga: Baru 6,3 Persen UMKM Indonesia di Rantai Pasok Global

BAGIKAN