Batam (gokepri.cm) – Jumlah pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) dan angka kematian di Kota Batam terus menurun. Hal ini seiring melandainya kasus aktif Covid-19 menjadi 2.093 kasus berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 Batam pada Jumat (6/8/2021).
Saat ini warga yang tengah menjalani isoman di Batam sebanyak 1.527 orang. Sementara yang dirawat di rumah sakit sebanyak 470 orang dan di Asrama Haji 96 orang. Mereka yang menjalani isolasi mandiri adalah pasien Covid-19 yang tergolong orang tanpa gejala (OTG).
Jumlah pasien isoman tersebut menurun dibanding pada akhir Juli 2021 lalu dengan 1.798 orang. Sementara yang dirawat di rumah sakit mencapai 507 orang dan di Asrama Haji 140 orang.
Selain pasien isoman, Gugus Tugas Covid-19 Batam juga mencatat penurunan kematian akibat Covid-19. Pada Jumat (6/8), tercatat angka kematian hanya 4 orang, turun dibanding hari sebelumnya dengan 6 orang meninggal akibat Covid-19. Kasus kematian tertinggi akibat Covid-19 di Batam terjadi pada 13 Juli lalu dengan 18 orang meninggal dalam sehari.
Total tingkat kematian akibat Covid-19 di Batam saat ini mencapai 2,719 persen atau 659 orang dari total 24.233 kasus positif Covid-19. Sebanyak 21.481 atau 88,64 persen di antaranya sembuh.
Sebelumnya, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, berjanji menjemput dan memindahkan pasien Covid-19 yang tengah menjalani isoman ke lokasi karantina khusus. Hal ini dilakukan agar para pasien dapat menjalani karantina selama seminggu di lokasi khsus.
“Penanganannya akan sama dengan pasien OTG. Mereka dijemput dan akan dikarantina. Sebagian di Asrama Haji, sebagian lagi di lokasi baru yang akan disediakan,” katanya.
Menurut Rudi, cara ini diyakini dapat mengendalikan penyebaran Covid-19. Sebab, pasien isoman benar-benar menjalani karantina dan terpisah dari keluarga yang masih sehat.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi memaparkan, per 2 Agustus 2021, sekitar 77.000 kasus aktif yang dirawat di rumah sakit baik di tempat tidur, isolasi, maupun ICU isolasi dari total 500 ribuan kasus aktif yang ada saat ini. Hal ini berarti lebih dari 80 persen kasus aktif ada di masyarakat baik yang saat ini sedang menjalani isolasi mandiri maupun isolasi di tempat yang sudah ditentukan pemerintah daerah setempat.
Menurutnya, berdasarkan hasil evaluasi PPKM, kematian terjadi ketika pasien baru sampai di UGD karena keterlambatan mengenali tanda kegawatan dan terlambat melakukan rujukan. Selain kematian terutama terjadi pada kelompok pasien-pasien berusia lanjut.
Oleh karena itu, untuk menekan angka kematian tersebut perlu dilakukan pemantauan isolasi, penentuan apakah seseorang dapat menjalani isolasi
mandiri atau terpusat harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. Sehingga jika muncul tanda kegawatan dapat segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. Juga memastikan kontak erat terutama kontak erat berisiko tinggi menjalani karantina minimal 5 hari serta entri dan exit test, ditambah dengan memperkuat sistem rujukan sampai ke level terkecil seperti RT/RW.
Baca juga: Tak Ada Lagi Isoman, Harus Isolasi Terpusat
“Ingat bila gejala sesak muncul saat kita melakukan isolasi mandiri segera ke fasilitas isolasi terpusat dan jangan ditunda,” ujar dr. Nadia.
Dia menambahkan, evaluasi akan terus dilakukan dan masukan kepada pemerintah sangat diharapkan. Dia menekankan yang paling penting adalah kolaborasi dari semua pihak dari mulai level individu, tingkat RT/RW, desa dan kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai di tingkat nasional dan bahkan global untuk saling mendukung upaya penanganan pandemi yang lebih baik. (zak)









