Innalillahi, Nelayan Pulau Jaloh Tewas Diterkam Buaya

Diterkam Buaya Pulau Jaloh
Ilustrasi. (Pixelbay)

Batam (gokepri.com) – Seorang warga Pulau Jaloh, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau meninggal diterkam buaya, Senin (20/12) kemarin.

Ketua RW 03 Pulau Jaloh, Arifin, mengatakan, korban tersebut bernama Jati bin Gawang (70) yang berprofesi sebagai nelayan.

Katanya, korban diketahui keluarga pergi seorang diri mencari kayu. Dengan membawa sampan, dia pergi sekitar 800 meter ke sungai tak jauh dari rumahnya.

“Tetapi sampai mendekati sore, korban juga belum pulang. Dari sana keluarga curiga dan mencarinya di sekitar lokasi biasa korban mencari kayu,” katanya, Selasa (21/12).

Dia dikabarkan meninggal setelah diterkam buaya saat menebang pohon di anak Sungai Gading, tak jauh dari rumahnya di Pulau Jaloh.

Saat ditemukan tubuh korban tinggal separuh badan ke atas saja. Dia menduga korban diterkam buaya saat mencari kayu.

“Beberapa waktu sebelumnya, memang warga sering cerita kalau mereka melihat buaya di sekitar sini. Tapi kami tidak menyangka kalau sampai ada korban jiwa,” katanya.

Arifin berharap, ada perhatian khusus pemerintah dalam peristiwa tersebut. Sebab, kehadiran buaya di sekitar perairan di sana mengkhawatirkan warga. Lebih lagi sampai ada warganya yang diduga diterkam buaya dan meninggal dunia.

“Warga di sini kan kebanyakan nelayan, mereka jadi takut melaut. Jadi semoga ada penangangan dari pihak terkait lah dalam persoalan ini.

Kepala Seksi BKSDA wilayah Kepri, Decky Hendra Prasetya, mengaku sudah dapat info itu. Namun, dia sedang menunggu pihak yang bisa mengonfirmasi kalau itu memang serangan buaya. Koordinasi dengan pemerintah setempat juga sedang dilakukan untuk membahas langkah ke depannya seperti apa.

Menurutnya, memang sebelum adanya kabar tersebut, pihaknya sudah menerima laporan terkait kemunculan buaya di Perairan Pulau Jaloh. Lokasi kejadian pun merupakan ekosistem tempat buaya hidup.

“Kami sedang mencari pihak yang bisa membuktikan itu apakah korban diserang buaya atau tidak. Karena korban sudah dimakamkan, makanya kami akan mencari informasi ke pihak kepolisian atau kesehatan,” katanya, Selasa (21/12).

BKSDA juga berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk mengetahui laporan adanya penampakan buaya di sana.

Jika ada banyak laporan dan masuk pada tingkat membahayakan, guna menghindari kejadian serupa, BKSDA bakal menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

“Kalau memang membahayakan sekali, mau tidak mau ya buayanya akan ditangkap. Kalau statusnya misalnya lampu kuning masyarakat akan diimbau untuk lebih berhati-hati,” katanya.

Decky menjelaskan, kehadiran buaya merupakan salah satu indikator terjaganya sebuah ekosistem. Untuk itu, akan dilihat apakah bisa nelayan dan buaya hidup berdampingan, sambil meningkatkan kehati-hatian.

“Itu juga kalau masyarakatnya setuju. Kalau tidak, ya mau tidak mau kami harus mengendalikan populasi buaya di sana,” kata dia.

Penulis: Engesti

|Baca Juga: Mandi di Sungai, Bocah di Inhil Diterkam Buaya

Pos terkait