Harga Rumah di Batam Diprediksi Menguat pada Kuartal I/2021

Harga rumah di Batam 2021
Perumahan Central Raya Batuaji yang dikembangkan developer Central Raya Group. (Foto: Dokumentasi Central Raya Group)

Batam (Gokepri.com) – Pertumbuhan harga properti di Batam diprediksi menguat pada kuartal I/2021 setelah tumbuh negatif sepanjang tahun pandemi.

Berdasarkan survei Bank Indonesia, pertumbuhan Harga Properti Residensial (IHPR) Kota Batam pada kuartal I 2021 diperkirakan tumbuh 0,39% secara tahunan. Angka ini menggambarkan pertumbuhan harga properti setiap triwulan. Indeksnya disurvei oleh Bank Indonesia terhadap pengembang di 16 kota, salah satunya Batam.

Indeks harga properti di Batam terbilang kecil pada periode kuartal I/2021 tapi menunjukkan indikasi positif pertumbuhan harga. Berdasarkan survei BI, sejak kuartal IV/2019 harga properti di Batam terus menurun secara tahunan. Berturut-turut pertumbuhannya yakni -1,18% (Kuartal IV/2020), -3.81% (Kuartal I/2020), -1,11 (Kuartal II/2020), dan -1,47% (Kuartal III/2020). Tanda-tanda kenaikan harga baru menguat pada Kuartal IV/2020 dengan pertumbuhan positif 0,25%.

Dari 18 kota yang disurvei, pertumbuhan harga properti residensial paling tinggi pada kuartal I/2021 adalah Kota Pekanbaru dengan pertumbuhan 2,96 persen dan yang paling lemah adalah Kota Balikpapan dengan -0,18%.

Harga properti batam

Secara keseluruhan, Survei Bank Indonesia mencatat pertumbuhan harga properti residensial akan melambat pada kuartal pertama 2021.

Hal ini terindikasi dari perkirakan pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal I 2021 yang hanya 1,1% secara tahunan, lebih rendah dari 1,43% pada kuartal IV 2020 dan 1,68% pada kuartal I 2020. “Perlambatan pertumbuhan diperkirakan terjadi untuk seluruh tipe rumah,” kata Kepala Departemen Komunikasi Direktur Eksekutif BI Erwin Haryono dalam keterangan resminya belum lama ini.

Dia menyebutkan pertumbunan harga rumah tipe kecil, menengah, dan besar pada kuartal pertama 2021 sebesar 1,56%, 1,2%, dan 0,75% secara tahunan. Pertumbuhan ini lebih rendah dari 1,87%, 1,61%, dan 0,81% pada triwulan sebelumnya. Adapun perlambatan pertumbuhan harga tejadi di sebagian besar kota yang disurvei, terutama Kota Makassar dan Bandung. Harga properti residensial di kedua kota tersebut diramal tumbuh 1,27% dan 1,04%, lebih rendah dari 2,46% dan 1,92% pada kuartal IV-2020.

Secara triwulanan, pertumbuhan harga properti residensial pada kuartal I 2021 juga diprediksikan masih terbatas. Ini terindikasi dari IHPR yang tumbuh 0,2%, relatif sama dibandingkan 0,22% pada kuartal IV-2020. Namun, lebih rendah dari 0,46% pada kuartal I 2020.

Perlambatan pertumbuhan harga rumah secara tiga bulanan ini diperkirakan terjadi pada rumah tipe menengah dan tipe besar yang masing-masing tumbuh 0,16% dan 0,13%, lebih rendah dari 0,28% dan 0,19% pada triwulan sebelumnya. Sementara itu, rumah tipe kecil kemungkinan akan mengalami kenaikan pertumbuhan harga dari 0,2% menjadi 0,31%.

Survei turut mengindikasikan harga properti residensial tumbuh terbatas pada kuartal IV 2020. Hal ini tercermin dari kenaikan IHPR kuartal keempat tahun lalu yang hanya sebesar 1,43%, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,51%.

Adapun pertumbuhan volume penjualan properti residensial pada kuartal IV 2020 tercatat membaik, meskipun masih terkontraksi. Hal ini tercermin pada kontraksi penjualan properti residensial sebesar 20,59% secara tahunan pada kuartal IV 2020, lebih baik dari minus 30,93% pada triwulan sebelumnya. Penurunan penjualan properti residensial terjadi pada seluruh tipe rumah.

Berdasarkan sumber pembiayaan, hasil survei menunjukkan pengembang masih mengandalkan pembiayaan dari nonperbankan untuk pembangunan properti residensial.

Hal tersebut tercermin pada porsi dana internal pengembang untuk pembiayaan pembangunan properti yang mencapai 65,46% dari total kebutuhan modal pada triwulan IV 2020. Dari sisi konsumen, pembiayaan kredit masih mengandalkan sumber dari perbankan.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance Sugiyono Madelan Ibrahim mengatakan bahwa harga rumah yang masih tumbuh melambat dan terbatas terjadi karena krisis ekonomi akibat pandemi. “Kalau dari sisi minat, pembeli rumah masih besar keinginannya,” ujar Sugiyono seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Saat ini, daya beli masyarakat untuk mengonsumsi barang sekunder maupun tersier yang menurun. Penyebabnya, hilangnya atau berkurangnya pendapatan masyarakat di tengah pandemi.

Meski harga rumah tumbuh melambat, Sugiyono menilai bahwa sektor real estate masih bisa tumbuh di tengah pandemi. “Walaupun perannya terhadap pertumbuhan ekonomi tidaklah besar, hanya 2,94%,” kata dia. (Can)

BAGIKAN