BATAM (gokepri) – Rencana perpisahan sekolah di Batam yang berbiaya ratusan ribu rupiah per siswa menuai keluhan orang tua. Dinas Pendidikan menegaskan acara wisuda atau perpisahan bukanlah kewajiban dan menyarankan pelaksanaannya di sekolah agar lebih terjangkau.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, menanggapi kekhawatiran orang tua siswa terkait rencana perpisahan salah satu sekolah di Batam yang diperkirakan menelan biaya hingga ratusan ribu rupiah per siswa dan direncanakan digelar di hotel.
“Saya katakan bahwa wisuda itu tidak wajib. Kalau memang ingin dilaksanakan, saya sarankan lokasinya di sekolah saja,” ujar Tri Wahyu saat ditemui di Pemko Batam, Senin (21/4/2025).
Menurutnya, pelaksanaan acara perpisahan di lingkungan sekolah akan jauh lebih terjangkau bagi seluruh siswa. “Meskipun *effort*-nya lebih besar kalau dilakukan di sekolah, harus ada panitia, perencanaan, hingga bersih-bersih, tapi konsekuensinya lebih ringan di biaya,” tambahnya.
Tri Wahyu menekankan kegiatan perpisahan sekolah harus bersifat merangkul semua siswa, bukan justru membuat sebagian siswa terpinggirkan karena masalah biaya. “Jangan sampai ada yang ditinggal. Kalau pun tetap ingin melaksanakan di luar sekolah, maka harus bisa mengajak semua siswa tanpa membebani,” lanjutnya.
Dalam upaya mencegah pungutan liar terkait kegiatan wisuda atau perpisahan, Disdik Batam telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 5 Tahun 2025. Surat Edaran tersebut menegaskan bahwa sekolah dilarang membebani wali murid dengan pungutan untuk kegiatan yang bersifat opsional. Perpisahan sekolah seharusnya tidak menjadi ajang yang eksklusif hanya bagi siswa yang mampu secara finansial.
“Saya tekankan laksanakan SE yang sudah kami siapkan. Karena di SE itu kami meyakini keberpihakan pemerintah kepada anak-anak tidak mampu, baik itu secara materi maupun secara psikologi,” ungkap Tri Wahyu.
Ia juga menyampaikan agar guru dan kepala sekolah tidak menjadi pelaksana utama kegiatan perpisahan, melainkan hanya hadir sebagai undangan. Pelaksanaan acara dapat diserahkan kepada komite sekolah. Lebih lanjut, Tri Wahyu menekankan pentingnya pihak sekolah untuk terbuka kepada orang tua dan wali murid sejak awal mengenai rencana kegiatan dan perkiraan biayanya.
“Maka saya katakan, harus dilibatkan seluruhnya. Kalau saya sarankan, laksanakan saja di sekolah. Terus dibuka ke orang tua wali, ini loh yang harus dibayarkan. Kalau mereka mau mengadakan gotong royong, biayanya lebih ringan itu,” jelasnya.
Tri Wahyu mengaku telah melakukan pertemuan antara guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan orang tua siswa untuk mencegah potensi konflik yang bisa muncul akibat kurangnya komunikasi. “Intinya satu. Saya memastikan bahwa mereka jangan membebani orang tua wali murid yang ada di sekolah itu,” tutupnya.
Baca Juga: 17 Ribu Siswa Batam Terima Makan Bergizi Gratis, Swasta Jadi Penggerak Awal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








