BATAM (gokepri.com) – Dinas Pariwisata Kota Batam memastikan kenaikan biaya tiket kapal feri yang melayani rute Batam–Singapura tidak bersifat permanen. Kenaikan tersebut dipicu oleh naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global.
Kepala Dinas Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan terkait penyebab kenaikan biaya tambahan pada tiket kapal.
Menurut Ardiwinata, lonjakan harga tersebut dipengaruhi oleh kondisi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dunia.
“Dari hasil koordinasi kami, kenaikan ini semata-mata karena harga minyak yang meningkat. Mungkin dipengaruhi situasi konflik di Timur Tengah. Namun kondisi ini tidak permanen dan bisa berubah sewaktu-waktu,” ujar Ardiwinata.
Ia menjelaskan bahwa komponen biaya operasional kapal tidak hanya berasal dari bahan bakar, tetapi juga berbagai faktor lain seperti biaya operasional, gaji pekerja, serta biaya sandar kapal di pelabuhan.
“Komponen tiket itu banyak, bukan hanya minyak. Ada juga biaya operasional lain seperti gaji pekerja, biaya tambat kapal, dan sebagainya,” katanya.
Ardiwinata berharap situasi global dapat segera membaik sehingga biaya transportasi laut kembali stabil. Ia juga mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk tetap optimistis terhadap perkembangan sektor pariwisata Batam.
Menurutnya, saat ini Batam terus melakukan berbagai pembenahan untuk meningkatkan daya tarik wisata, termasuk membuka konektivitas baru yang mendukung mobilitas wisatawan.
“Pariwisata memiliki tiga komponen utama, yaitu aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Saat ini kita terus memperkuat semuanya agar Batam tetap menarik bagi wisatawan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi peran para pelaku industri perjalanan dan agen travel yang dinilai menjadi ujung tombak dalam mendatangkan wisatawan ke Batam.
Pemerintah Kota Batam sendiri menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 1,7 juta orang pada tahun 2026. Target tersebut diharapkan tetap dapat tercapai meskipun terdapat tantangan dari situasi ekonomi global.
“Pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 cukup baik, bahkan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu kami berharap sektor pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah,” kata Ardiwinata.
Sebelumnya, sejumlah penumpang feri rute Batam–Singapura mulai mengeluhkan adanya penambahan biaya tambahan bahan bakar yang diberlakukan operator kapal mulai 12 Maret 2026.
Keluhan tersebut muncul setelah operator feri mengumumkan penerapan biaya tambahan bahan bakar akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu gejolak konflik di Timur Tengah.
Majestic Fast Ferry, dalam pengumumannya menyatakan biaya tambahan dikenakan kepada seluruh penumpang tanpa terkecuali, termasuk bagi tiket yang telah dibeli sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.
Berdasarkan pemberitahuan resmi manajemen, biaya tambahan yang dikenakan sebesar 6 dolar Singapura untuk keberangkatan dari Singapura melalui HarbourFront Centre atau Terminal Feri Tanah Merah.
Sementara untuk keberangkatan dari pelabuhan di Batam seperti Batam Centre, Sekupang, dan Tanjungpinang, penumpang dikenakan tambahan Rp65.000 per tiket. Biaya tersebut akan dipungut langsung di loket tiket operator feri.
Manajemen Majestic menyatakan kebijakan ini diambil menyusul kenaikan harga bahan bakar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan ini dan menghargai pengertian serta dukungan para penumpang,” demikian pernyataan manajemen.
Salah seorang penumpang, Andi (34), mengaku cukup terkejut dengan adanya biaya tambahan tersebut saat hendak membeli tiket di loket pelabuhan.
“Awalnya saya pikir harga tiketnya tetap seperti biasa. Ternyata ada tambahan biaya lagi. Memang tidak terlalu besar, tapi tetap saja terasa kalau sering bolak-balik Batam–Singapura,” katanya di Batam, Kamis.
Penumpang lainnya, Siti Rahma (29), juga menyampaikan keluhan serupa. Menurutnya, kenaikan biaya transportasi laut tersebut akan berdampak pada pengeluaran perjalanan.
“Kalau sekali jalan mungkin tidak terlalu terasa, tapi kalau pergi-pulang atau sering bepergian tentu jadi bertambah juga biayanya. Semoga tidak naik lagi,” ujarnya.
Dampak Konflik Global
Praktisi pariwisata Kepulauan Riau, Surya Wijaya, menilai kenaikan biaya transportasi tersebut merupakan salah satu dampak awal dari konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah yang mulai memberikan efek berantai terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
“Perang Iran yang sudah berlangsung perlahan mulai memberikan efek kepada negara kita. Yang paling terasa adalah ekonomi yang mulai terdampak,” kata Surya, Kamis.
Menurut dia, wilayah perbatasan seperti Batam yang bergantung pada arus wisatawan mancanegara sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global.
Sebagai kota perbatasan di Provinsi Kepulauan Riau, Batam selama ini mengandalkan kunjungan wisatawan dari Singapura dan Malaysia sebagai penggerak utama sektor pariwisata. “Hari ini saja sudah ada 4 kapal yang cansel berangkat. Pengelola tidak berani berangkat akrena malaysia sudah menaikkna harga BBM,” kata dia.
Sinyal dari Malaysia
Surya mengatakan tanda-tanda perlambatan ekonomi juga mulai terlihat di negara tetangga.
Saat melakukan kunjungan kerja ke Johor, Malaysia, ia melihat aktivitas di sejumlah bazar Ramadan tidak seramai biasanya.
“Bazar Ramadan di Malaysia biasanya sangat ramai. Namun kali ini aktivitas belanja masyarakat terlihat lebih berhati-hati,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah Malaysia bahkan telah mengimbau masyarakat untuk berhemat karena potensi kenaikan harga bahan bakar akibat dampak konflik global.
Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi jumlah wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Batam dan daerah lain di Kepulauan Riau.
Tantangan Target Wisman
Padahal sebelumnya, kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau sepanjang 2025 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah Kota Batam menargetkan 1,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026, sementara target Provinsi Kepulauan Riau mencapai 2,7 juta wisman.
Namun Surya mengingatkan bahwa situasi global saat ini bisa menjadi tantangan bagi pencapaian target tersebut.
“Kondisi ini kemungkinan baru benar-benar terasa setelah Ramadan. Industri dan pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan berbagai program untuk menarik wisatawan,” katanya.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem pariwisata agar tetap stabil.
Menurutnya, ekosistem pariwisata mencakup integrasi berbagai komponen seperti atraksi wisata, akomodasi, transportasi, layanan pendukung, hingga keterlibatan masyarakat lokal.
“Ekosistem pariwisata adalah integrasi antara atraksi, akomodasi, transportasi, layanan pendukung dan masyarakat lokal yang didukung pemerintah dan swasta,” ujarnya.
Ia menilai saat ini beberapa unsur dalam ekosistem tersebut belum berjalan optimal sehingga perlu perhatian dan pengawasan dari pemerintah.
“Yang terpenting sekarang adalah memastikan ekosistem pariwisata tetap terjaga agar sektor ini tetap menjadi kekuatan ekonomi bagi Batam dan Kepulauan Riau,” kata Surya. *
Penulis: engesti








