Batam (gokepri.com) – Perusahaan ritel online Amazon menambah 427.300 pekerja dalam 10 bulan terakhir. Pandemi tak menghalangi gurita bisnis perusahaan milik Jeff Bezos.
Sepanjang 2020 Amazon luar biasa. Mereka bak pesta merekrut pekerja. Dalam sehari bisa 1.400 orang jadi karyawan baru Amazon.
Perekrutan pekerja baru berpusat di Seattle, markas utama Amazon. Mereka membuka lowongan hampir di setiap penjuru kota. Tak cuma di Seattle, perekrutan pekerja baru juga dilakukan di India dan Italia.
Dilansir New York Times, Amazon sudah merekrut sebanyak 427.300 orang sepanjang Januari-Oktober tahun ini. Angka itu belum termasuk sekitar 100.000 pekerja paruh waktu dan 500.000 kurir dari subcon.
Sebagian besar yang direkrut adalah pekerja gudang, tapi Amazon juga merekrut programmer dan spesialis software untuk memperkuat komputasi awan, streaming mereka Prima dan device. Bisnis Amazon berkembang pesat selama pandemi karena tren belanja online makin meningkat saat pandemi.
Total pekerja mereka secara global sudah menyentuh 1,2 juta orang atau naik 50 persen dari 2019. Skala perekrutan pekerja baru ini tak sebanding dengan karyawan yang keluar dari Amazon.
Aksi foya-foya dengan rekrut pekerja ini terbilang berhasil bagi Amazon. Bisnis mereka meningkat selama pandemi. Amazon menjadi penguasa pangsa pasar ritel online di Amerika Serikat. Bahkan menurut organisasi ritel AS, penjualan Amazon tumbuh 30 persen.
Perekrutan pekerja baru Amazon tidak tertandingi oleh perusahaan lain dalam sejarah. Walmart saja hanya mampu menambah 230.000 karyawan baru dalam satu tahun. Itupun 20 tahun lalu.
“Amazon gila-gilaan,” ujar sejarawan dari University of California, Santa Barbara, kepada The New York Times, baru-baru ini. “Tidak ada perusahaan Amerika yang mempekerjakan begitu banyak pekerja secepat ini,” sambung dia.
Pertumbuhan karyawan Amazon menunjukkan kekuatan perusahaan ritel online ini begitu jumbo. Mereka digadang-gadang akan menjadi perusahaan swasta terbesar di dunia dalam dua tahun, menggeser Walmart.
“Kami berubah menjadi bangsa Amazon,” sebut profesor sejarah Universitas Washington dan penulis opini di The New York Times, Margaret O’Mara.
Amazon punya karyawan di setiap negara bagian AS. Punya gudang terbesar sehingga lebih dekat dengan pelanggan. O’Mara mengatakan Amazon berpotensi memperbesar pengaruh politik.








