Belajar Prokes dari Sekolah di Batam

Disiplin protokol kesehatan di sekolah di Kota Batam di masa PPKM Level 3.
Disiplin protokol kesehatan di sekolah di Kota Batam di masa PPKM Level 3.

Mengenakan kaos olahraga warna ungu dan masker warna putih, bocah delapan tahun itu berjalan penuh semangat memasuki halaman sekolah. Dari pintu gerbang, ia menuju tempat mencuci tangan terlebih dahulu yang terletak di sisi kiri lorong gedung sekolah. Aliran air mengucur dari pipa kran yang tersambung ke sebuah tandon berwarna merah. Usai membasuh kedua tangannya dengan air dan sabun, ia kemudian menjalani pengecekan suhu tubuh, baru menuju ruang kelas.

Begitulah aktivitas Evan, siswa kelas 2 SDN 008 Seibeduk, Kota Batam, di hari keduanya masuk sekolah, Sabtu (25/9/2021). Kali ini ia tidak tersesat, masuk ke ruang kelas lain, sebagaimana di hari pertama sekolah tatap muka, Kamis (23/9). Saat memasuki halaman sekolah, ia sebenarnya sudah diarahkan oleh penjaga untuk belok ke kiri setelah melewati lorong gedung utama. Namun ia justru belok ke kanan dan langsung memasuki ruang yang ada di ujung gedung.

“Ada tiga anak yang salah masuk ruang kelas. Kami kemudian diantar oleh guru menuju ruang kelas yang benar,” katanya.

Evan dan teman sekelasnya, memang belum terlalu hafal lingkungan sekolahnya. Teman-teman sekelasnya juga belum semua dikenalnya. Sudah setahun lebih bersekolah, baru kali ini kembali menjalani pembelajaran tatap muka.

Sejak diterima sebagai murid baru di sekolah itu, Juni 2020 lalu, ia masuk ke sekolah bisa dihitung jari. Yakni dua kali saat menjalani suntik vaksin dan dua kali saat percobaan sekolah tatap muka. Selain itu, pembelajaran berlangsung secara daring atau belajar dari rumah.

“Lebih enak belajar di sekolah, banyak teman,” kata Evan.

Tatap Muka Terbatas

Beberapa sekolah di Kota Batam melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas mulai 21 September 2021. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka ini mengacu Surat Edaran (SE) Wali Kota Batam Nomor 52/419.1/DISDIK/IX/2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Ajaran 2021/2022 di masa Pandemi Covid-19.

Selain itu, juga mengacu pada Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 03/KB/2021, Nomor 384 Tahun 2021. Nomor HK.01.08 MENKES/4242/2021, Nomor 440-717 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 dan wajib memenuhi enam daftar periksa sebelum memastikan pembelajaran tatap muka diaksanakan.

Di antara daftar periksa itu adalah ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan seperti toilet bersih dan layak. Kemudian sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer), serta disinfektan.

Lalu, ketersediaan fasilitas kesehatan, seperti mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, menerapkan area wajib masker kain, dan memiliki alat pengukur suhu badan atau thermogun. Kemudian, pemetaan warga satuan pendidikan yang tidak boleh melakukan kegiatan di satuan pendidikan, seperti memiliki kondisi medis komorbid, tidak memiliki akses transportasi, memiliki riwayat perjalanan dari zona kuning, oranye, merah, serta memiliki riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Serta mendapat persetujuan komite sekolah dan perwakilan orangtua,” ujar Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka, kapasitas maksimal dalam satu rombongan belajar untuk SD/MI adalah 18 siswa perombel. Satuan pendidikan juga harus melakukan penjadwalan kegiatan pembelajaran, untuk menghindari kerumunan dalam pelaksanaan protokol Covid-19.

Jika dalam proses pembelajaran terdapat warga satuan pendidikan yang terpapar Covid-19, maka sekolah langsung ditutup kembali sementara waktu. Dan dilanjutkan dengan pembelajaran jarak jauh secara daring/luring.

Satgas Penanganan Covid-19 meminta satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara hati-hati. Mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik dari penularan Covid-19 adalah keharusan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, mengingatkan ditemukannya berbagai kasus positif Covid-19 pada peserta didik di berbagai daerah, harus dijadikan pelajaran penting bagi daerah lain. Sehingga kasus serupa tidak terulang dan pembelajaran tatap muka dapat dijalankan dengan aman sehingga penularan Covid-19 dapat dicegah.

“Oleh karena itu jika ada kasus positif, maka segera lakukan penutupan sekolah untuk segera dilakukan disinfeksi, pelacakan, dan testing kontak erat,” kata Wiku dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (23/9/2021).

Selain itu, sekolah harus melakukan evaluasi penerapan pembatasan. Khususnya terkait penerapan protokol kesehatan seperti skrining kesehatan, pengaturan kapasitas dan jarak antar siswa di sekolah, sehingga tidak terjadi kenaikan kasus yang signifikan.

“Sekecil apapun angka kasus yang ada jika tidak ditindaklanjuti dengan baik dengan tracing maupun treatment yang tepat maka akan memperluas penularan,” tegasnya.

Tak hanya itu, harus perhatikan juga peluang penularan di rumah, perjalanan maupun saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dan pastikan siswa dan tenaga pengajar secara disiplin mematuhi protokol kesehatan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Waspada Lonjakan Ketiga

Jumlah kasus Covid-19 di Kota Batam terus menujukkan tren melandai. Data Satgas Covid-19 Batam per 24 September 2021, jumlah kasus aktif terus menurun dan tinggal 63 orang. Hanya ada penambahan 3 kasus baru pada hari itu.

Beberapa Kecamatan juga sudah masuk zona hijau, seperti Belakangpadang, Bulang, Galang, Nongsa, dan Batu Ampar. Sementara empat kecamatan masuk zona kuning, yaitu Sekupang, Lubukbaja, Bengkong, dan Seibeduk. Sedangkan Kecamatan Batam Kota, Sagulung, dan Batuaji masuk zona oranye.

Wali Kota Batam mengatakan tren penurunan jumlah kasus Covid-19 di Batam, tentunya terus diharapkan. Namun, pihaknya meminta agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan meskipun jumlah kasus menurun.

“Karena itu saya mengajak masyarakat untuk sama-sama komitmen, jalankan terus protokol kesehatan,” kata Muhammad Rudi.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 mengingatkan pada masa-masa seperti inilah, semua pihak harus menahan diri agar Indonesia tidak menghadapi lonjakan ketiga (third wave).

“Hal yang perlu diwaspadai adalah dengan melandainya kasus Covid-19 saat ini pasca second wave (lonjakan kedua). Mobilitas penduduk cenderung mengalami peningkatan,” kata Prof Wiku Adisasmito.

Ia menjelaskan, dari pengalaman penanganan selama pandemi, terjadinya kenaikan kasus sebagai dampak dari adanya periode libur panjang. Dan kenaikan kasus disebabkan dari meningkatnya mobilitas masyarakat saat kasus melandai. Hal ini terbukti dari beberapa periode libur panjang pada Idul Fitri 2020, Natal dan Tahun Baru 2021 serta Idul Fitri 2021.

Kenaikan kasus terjadi mulai dari kenaikan yang tidak begitu signifikan hingga Indonesia mengalami lonjakan pertama (first wave) dan juga pada lonjakan kedua. “Tidak dapat terelakkan bahwa periode libur hari raya berdampak signifikan pada mobilitas penduduk dan aktivitas sosial-ekonomi,” imbuh Wiku.

Keterkaitannya karena masyarakat cenderung berkumpul, bertemu dengan keluarga dan bepergian pada periode tersebut. Kegiatan-kegiatan inilah yang berpotensi meningkatkan penularan Covid-19. Apalagi jika kegiatan tersebut tidak dibarengi dengan penerapan disiplin protokol kesehatan.

Lalu, secara grafik kasus terdapat jeda antara kenaikan mobilitas penduduk dengan kenaikan kasus. Pola tersebut menggambarkan mobilitas penduduk tinggi pada saat kasus belum meningkat. Begitu kasus meningkat mobilitas langsung turun drastis karena kebijakan pembatasan yang diterapkan.

Pola tersebut berulang ketika kasus mulai melandai mobilitas kembali meningkat. Peningkatan paling tajam terjadi pada periode Libur Idul Fitri 2021 dan tidak lama kemudian Indonesia mengalami second wave dan barulah mobilitas perlahan kembali menurun.

“Adanya pola ini menunjukkan bahwa pemerintah responsif dalam menurunkan lonjakan kasus dengan langsung menetapkan kebijakan terkait pembatasan mobilitas. Adanya penurunan mobilitas saat kasus meningkat juga tidak terlepas dari kepatuhan masyarakat dalam menaati kebijakan pembatasan mobilitas yang ditetapkan oleh pemerintah,” lanjut Wiku.

Jika mencermati pola tersebut, Wiku mengingatkan, bukan tidak mungkin kasus Covid-19 dapat kembali meningkat di kemudian hari sebagai dampak dari mobilitas yang meningkat saat ini. Terlebih saat ini kegiatan sosial-ekonomi masyarakat sudah mulai dibuka secara bertahap. Dan kebijakan pembatasan pelonggaran mobilitas mungkin saja akan terus diterapkan.

“Meskipun saat ini pelonggaran mobilitas mulai diterapkan, namun dimohon kepada masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam berkegiatan sehari-hari. Dan hindari kerumunan semaksimal mungkin di dalam rangka mempertahankan pelandaian kasus Covid-19,” pungkasnya. (zak)

Baca juga: Polsek Lubuk Baja Gelar Operasi Yustisi Penertiban Prokes

BAGIKAN