Batam Kejar Investasi Padat Karya di Tengah Ledakan Pusat Data

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi BP Batam Irfan Syakir Widyasa menyampaikan perkembangan investasi dan kawasan industri Batam.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi Badan Pengusahaan (BP) Batam Irfan Syakir Widyasa menyampaikan paparan dalam Workshop Kehumasan dan Media Gathering Kementerian Transmigrasi di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (8/10/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

Investasi pusat data terus tumbuh di Batam. BP Batam menyiapkan kawasan industri padat karya untuk memperluas lapangan kerja.

BATAM (gokepri) — Investasi pusat data (data center) yang berkembang di Batam tergolong padat modal dan tidak banyak menyerap tenaga kerja. Untuk memperluas manfaat investasi, BP Batam menyiapkan sejumlah kawasan industri padat karya yang membutuhkan lahan, perizinan, dan tenaga kerja dalam jumlah lebih besar.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi BP Batam Irfan Syakir Widyasa mengatakan pengembangan industri padat karya menjadi bagian dari upaya memperluas kegiatan industri sekaligus membuka kesempatan kerja. Menurut dia, pertumbuhan pusat data perlu diimbangi dengan investasi yang memberi ruang lebih besar bagi penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga: NDP Siapkan SWRO untuk Pasok Air Sembilan Pusat Data

“Industri data center yang kita tahu sangat padat modal itu, nah di Batam juga diimbangi dengan berbagai industri padat karya,” kata Irfan dalam Workshop Kehumasan dan Media Gathering Kementerian Transmigrasi di Batam, Jumat (9/10/2026).

Masuknya investasi pusat data menunjukkan sektor industri Batam semakin beragam. Namun, industri yang membutuhkan banyak pekerja juga menjadi perhatian agar pertumbuhan investasi tidak hanya tercermin dari besarnya nilai modal yang masuk.

Sejumlah kawasan yang diproyeksikan untuk industri padat karya kini masih berada dalam tahap persiapan. BP Batam antara lain masih menyiapkan lahan dan menyelesaikan perizinan sebelum kawasan tersebut dapat berkembang lebih jauh.

“Nah, hanya saja yang padat karyanya ini masih proses penyiapan lahan, perizinan, dan penyiapan-penyiapan,” ujar Irfan.

Pengembangan kawasan industri berskala besar juga tidak hanya berpusat di Rempang Eco-City. BP Batam menyebut Galang, Galang Gesek, Pulau Tanjung Sauh, dan Pulau Setokok masuk dalam rencana pengembangan kawasan dengan skala besar.

“Tidak hanya Rempang Eco-City, ada yang sama besarnya nanti di Galang, Galang Gesek, lalu di Pulau Tanjung Sauh sama besarnya, di Pulau Setokok sama besarnya,” kata Irfan.

Ads bp batam 2026 baru

Selain membuka kawasan baru, pertumbuhan industri juga berlangsung melalui ekspansi kawasan yang sudah beroperasi. Perluasan tersebut membuat pengembangan kegiatan usaha di Batam tidak hanya bergantung pada pembukaan lokasi investasi baru.

“Kawasan-kawasan industri di Batam yang besar-besar itu sudah ekspansi menambah lokasi,” ujarnya.

Irfan memperkirakan sejumlah kawasan yang tengah dikembangkan akan tumbuh signifikan dalam satu hingga tiga tahun mendatang. Namun, BP Batam belum merinci jenis industri yang akan masuk ke setiap lokasi, nilai investasi yang disiapkan, maupun jumlah tenaga kerja yang berpotensi terserap.

Kesiapan kawasan menjadi salah satu faktor yang menurut BP Batam menentukan daya tarik investasi. Faktor tersebut mencakup infrastruktur, kepastian tata ruang, kemudahan perizinan, serta ketersediaan sumber daya manusia sesuai kebutuhan industri.

Dalam paparannya, Irfan menyebut Batam memiliki 31 kawasan industri, empat kawasan ekonomi khusus (KEK), dan tiga proyek strategis nasional (PSN). Ekosistem tersebut menopang berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari manufaktur, galangan kapal, logistik hingga sektor digital, termasuk pusat data.

Realisasi investasi Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun, melampaui target Rp60 triliun. BP Batam kini berupaya menjaga pertumbuhan investasi sekaligus memastikan kebutuhan tenaga kerja industri dapat dipenuhi dari sumber daya manusia yang tersedia.

Penyiapan tenaga kerja menjadi bagian penting dari strategi tersebut. BP Batam mendorong ketersediaan pekerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri serta memiliki sertifikasi kompetensi.

“Ke depan Batam akan promosi bahwa kalau perusahaan buka di Batam, kita siap talent-nya, siap human resource-nya yang tersertifikasi, yang berstandar internasional,” ucap Irfan.

Dalam pengembangan Rempang Eco-City, BP Batam juga bekerja sama dengan Kementerian Transmigrasi dalam penyiapan masyarakat. Kerja sama itu mencakup pemetaan potensi, minat, dan keterampilan warga untuk menyesuaikan kapasitas masyarakat dengan peluang kegiatan ekonomi yang berkembang di kawasan tersebut. ANTARA

Baca Juga: Pusat Data Makin Marak, Pemerintah Diminta Buat Regulasi soal Air dan Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait