BATAM (gokepri) — Cuaca panas lembap dengan langit berawan mendominasi Kota Batam, Rabu (25/3/2026). Kondisi ini membuat aktivitas warga di luar ruangan berkurang, terutama pada siang hari.
Sejak pagi, awan menutupi sebagian besar wilayah kota. Intensitas sinar matahari tidak terlalu terik. Namun, suhu udara tetap berada pada kisaran 26–32 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi mencapai 75–90 persen. Kombinasi ini menimbulkan rasa gerah.
Romauli, warga Batam, memilih mengurangi aktivitas luar ruang. Ia lebih banyak berada di rumah karena kondisi udara tidak nyaman. “Cuacanya panas terik, saya di rumah saja,” ujarnya.
Baca Juga: Suhu Panas 38 Derajat Celsius Landa Batam, Simak Tips Hindari Heatstroke
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Hang Nadim Batam, Suratman, menjelaskan kondisi cuaca dipengaruhi tingginya kandungan uap air di atmosfer serta dinamika angin di wilayah Kepulauan Riau.
Ia menyebutkan, cuaca umumnya berawan hingga cerah berawan dengan peluang hujan ringan bersifat lokal. “Peluang hujan terutama siang sampai sore hari,” kata Suratman.
Kecepatan angin tercatat relatif rendah, sekitar 5–15 kilometer per jam. Kondisi ini tidak cukup membantu mengurangi panas di permukaan. Akibatnya, efek panas lembap lebih terasa.
BMKG juga mencatat, hingga dasarian II Maret 2026, fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral. Kondisi ini tidak memberi pengaruh signifikan terhadap curah hujan di wilayah tersebut.
BMKG memproyeksikan musim kemarau di Kepulauan Riau tidak datang serentak. Peralihan musim berlangsung bertahap mulai akhir Mei hingga pertengahan Juli 2026.
Natuna diperkirakan menjadi wilayah pertama yang memasuki kemarau pada akhir Mei. Wilayah Jemaja di Kabupaten Anambas menyusul pada awal Juni. Batam bagian timur diprediksi mulai mengalami kemarau pada akhir Juni. Adapun Tambelan dan Natuna bagian tenggara diperkirakan menyusul pada pertengahan Juli.
Suratman mengingatkan, masa peralihan musim bersifat dinamis. Hujan lokal masih berpotensi terjadi meski tren penurunan curah hujan mulai terlihat. “Perubahan cuaca masih cepat, masyarakat perlu waspada,” ujarnya.
Baca Juga: Studi Terbaru, Suhu Bumi Naik Lebih Cepat sejak 2015
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








