Banyak Truk Tanah di Ocarina Langgar Aturan dan Ugal-Ugalan

Truk tanah Ocarina
Satlantas Polresta Barelang mendatangi sopir truk tanah di kawasan Batam Center, baru-baru ini. Truk tanah yang beroperasi di sana meresahkan warga karena ugal-ugalan dan melanggar aturan. Foto: Dok. Polresta Barelang

Batam (gokepri) – Truk angkutan tanah yang beroperasi di kawasan Ocarina, Batam Center, meresahkan dan mengancam keselamatan pengendara lainnya. Mereka banyak melanggar aturan, polisi sudah turun tangan.

Satlantas Polresta Barelang sudah merespons persoalan ini. Mereka mendatangi lokasi dan bertemu para sopir truk. Sopir diimbau dan diedukasi. Kanit Turjawali Satlantas Polresta Barelang Iptu Yelvis Oktaviano, bersama personel Satlantas Polresta Barelang mendatangi kawasan Ocarina, baru-baru ini.

Polisi memberikan sosialisasi imbauan dan edukasi kepada sopir truk pengangkut tanah agar lebih berhati-hati dalam berkendara dan lebih mengutamakan keselamatan selama di jalan raya.

“Sudah banyak laporan yang masuk. Kami turun ke lapangan dan mengimbau agar tertib berlalu lintas, lalu menggunakan terpal penutup pada saat mengangkut tanah. Dan agar tidak ugal-ugalan yang dapat membahayakan pengguna jalan lain,” kata Iptu Yelvis.

Polisi akan memberi sanksi tegas jika pengemudi masih melakukan hal serupa. “Saling menghargai sesama pengguna jalan raya demi tercipta kenyamanan di Kota Batam,” kata dia.

Ketua Komisi I DPRD Kota Batam Lik Khai sebelumnya menyoroti aksi ugal-ugalan sopir truk pengangkut tanah di sana. Menurut dia, operasional truk tanah mengganggu aktivitas pendidikan yang juga berada di kawasan yang sama.

“Orang tua murid di sekolah Mondial itu saja sudah sangat mengeluh. Siapa yang menghalangi mereka, akan dimarahi oleh supir truk itu, bahkan Pak Waka kami juga hampir menjadi korban dari ugal-ugalan sopir truk itu. Sekarang kita sudah dikepung di kawasan Batam center ini. Kadang mereka iring-iringan dengan kecepatan tinggi,” kata dia.

Ia meminta kepada Satlantas Polresta Barelang dan Dishub Batam dan jajarannya, memberikan perhatian khusus terkait masalah ini. Baik dari segi jam operasional maupun kecepatan truk.

Baginya, masalah penimbunan ini tidak bisa selesai hingga lima tahun ke depan. Ia menilai, apakah masyarakat Batam harus menikmati debu bahkan kecelakaan yang menunggu, hingga lima tahun ke depan. “Semua negara itu hampir sama terkait aturan di jalan. Truk, kontainer atau bus itu berada di lajur lambat. Begitu seharusnya, ini bertujuan untuk mengurangi kecelakaan,” terangnya.

Baca Juga: Truk Tanpa Muatan Hantam Warung Makan di Lampu Merah Baran Karimun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

BAGIKAN