Dubai (gokepri) – Hujan lebat yang mengguyur Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman pada pertengahan April ini memecahkan rekor curah hujan tertinggi. Akibatnya, banjir bandang melanda kedua negara, melumpuhkan jalan raya, merendam rumah warga, dan menyebabkan kemacetan parah.
Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas akibat banjir di Oman, sementara di UEA tercatat satu korban jiwa. Banjir ini juga memaksa penutupan kantor pemerintahan dan sekolah selama beberapa hari.
Badai tersebut terlebih dahulu menerjang Oman pada 14 April sebelum bergerak ke UEA pada 16 April. Hujan lebat menyebabkan listrik padam dan disrupsi penerbangan besar-besaran karena landasan pacu berubah menjadi sungai.
Baca Juga:
- Banjir Melanda Dubai, Hujan Terparah dalam 75 Tahun Terakhir
- Mencegah Kebakaran Hutan dengan Hujan Buatan Kecerdasan Artifisial

Di UEA, curah hujan tercatat mencapai 254 mm di Al Ain, kota yang berbatasan langsung dengan Oman. Angka ini merupakan rekor curah hujan tertinggi dalam 24 jam sejak pencatatan dimulai pada 1949.
Hujan Buatan atau Perubahan Iklim?
Curah hujan tinggi terbilang langka di UEA dan wilayah lain di Semenanjung Arab yang terkenal dengan iklim gurun yang kering. Suhu udara pada musim panas bahkan bisa mencapai lebih dari 50 derajat Celcius.
Namun, baik UEA maupun Oman sama-sama belum memiliki sistem drainase yang memadai untuk mengatasi hujan deras. Akibatnya, genangan air di jalanan saat musim hujan sudah menjadi hal yang lumrah.
Setelah peristiwa 16 April, muncul pertanyaan apakah penyemaian awan atau hujan buatan, praktik yang kerap dilakukan UEA, menjadi penyebab tingginya curah hujan.

Penyemaian awan adalah proses menambahkan zat kimia ke dalam awan untuk meningkatkan curah hujan, mengingat ketersediaan air menjadi masalah di wilayah tersebut.
UEA, yang terletak di salah satu kawasan terpanas dan terkering di dunia, merupakan pemimpin dalam upaya penyemaian awan untuk menambah curah hujan.
Namun, menurut badan meteorologi UEA kepada Reuters, tidak ada operasi penyemaian awan yang dilakukan sebelum badai tersebut terjadi.
Dampak Pemanasan Global
Pakar iklim Friederike Otto dari Imperial College London menjelaskan bahwa curah hujan di seluruh dunia semakin meningkat seiring dengan memanasnya iklim. Hal ini disebabkan oleh kemampuan atmosfer yang lebih hangat untuk menampung lebih banyak uap air.

“Penyemaian awan tidak bisa menciptakan awan dari udara kosong. Proses ini hanya mendorong air yang sudah ada di atmosfer untuk mengembun lebih cepat dan menurunkan hujan di tempat tertentu. Jadi, yang dibutuhkan terlebih dahulu adalah keberadaan uap air,” ujarnya.
Pemanasan global menyebabkan air laut di sekitar Dubai menjadi “sangat hangat” dibarengi dengan suhu udara yang juga tinggi, ungkap Mr Mark Howden, Direktur di Institut Solusi Iklim, Energi & Bencana Universitas Nasional Australia.
“Kondisi ini meningkatkan potensi tingkat evaporasi dan kapasitas atmosfer untuk menampung air tersebut, sehingga memungkinkan terjadinya hujan lebat seperti yang baru saja terjadi di Dubai,” lanjutnya.
Sementara itu, Ms Gabi Hegerl, ahli klimatologi dari Universitas Edinburgh, berpendapat bahwa curah hujan ekstrem seperti di UEA dan Oman berpotensi semakin parah di banyak tempat akibat perubahan iklim.
“Ketika kondisi memungkinkan terjadinya hujan yang sangat lebat, maka semakin banyak uap air yang ada di udara sehingga curah hujan pun semakin tinggi. Peningkatan uap air ini disebabkan oleh udara yang lebih hangat, yang merupakan dampak dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia,” pungkasnya. REUTERS
Cek Berita dan Artikel yang lain diĀ Google News








