BATAM (gokepri.com) – Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, terus mendorong penyerapan tenaga kerja lokal di tengah masih tingginya angka pengangguran terbuka di daerah itu yang mencapai 7,57 persen.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam Yudi Suprapto mengatakan, angka tersebut masih menjadi perhatian pemerintah meskipun telah menunjukkan penurunan.
“Angka pengangguran di Batam 7,57 persen itu sangat tinggi. Meskipun ada penurunan, masih sedikit,” kata Yudi.
Untuk menekan angka tersebut, Pemkot Batam menggandeng Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melalui kerja sama penempatan tenaga kerja lokal di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Batam.
Kerja sama itu diawali dengan komitmen sejumlah perusahaan untuk membuka ruang lebih besar bagi tenaga kerja lokal. Pemerintah juga menyiapkan mekanisme pemantauan agar komitmen tersebut tidak berhenti pada kesepakatan.
Yudi mengatakan, tenaga kerja lokal yang menjadi sasaran mencakup masyarakat yang lahir di Batam, menempuh pendidikan di Batam, maupun yang telah berdomisili di Batam minimal satu tahun.
“Bagaimana cara kami mengevaluasi atau melakukan kontrol? Kami sudah membangun sistem informasi tenaga kerja, namanya SimNaker,” ujarnya.
Sistem tersebut mulai disosialisasikan kepada pengelola sumber daya manusia (HRD) perusahaan dan diharapkan menjadi instrumen bagi Disnaker untuk memantau sejauh mana perusahaan merealisasikan komitmen penyerapan tenaga kerja lokal.
Dalam kegiatan sosialisasi, sekitar 250 HRD turut hadir. Disnaker selanjutnya akan menyiapkan operator untuk melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala.
Evaluasi tersebut akan digunakan untuk melihat perusahaan yang paling tinggi dalam menempatkan tenaga kerja lokal. Pemerintah Kota Batam juga menyiapkan apresiasi bagi perusahaan yang dinilai memiliki komitmen terbaik.
“Harapan kita, kita berikan apresiasi atau award dari Pemerintah Kota Batam. Itu sudah kita bicarakan,” kata Yudi.
Selain memperluas akses pekerjaan, Pemkot Batam menilai peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam menekan angka pengangguran.
Yudi mengatakan, tenaga kerja lokal harus dipersiapkan agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri sehingga mampu bersaing untuk mengisi berbagai posisi yang tersedia.
“Anak-anak lokal ini memang betul-betul siap untuk ditempatkan di seluruh perusahaan yang ada di Kota Batam,” ujarnya.
Karena itu, Disnaker Batam terus mengembangkan program pelatihan dengan menyesuaikan materi dengan kebutuhan dunia usaha.
Menurut Yudi, pemerintah berkomunikasi dengan pelaku industri, termasuk sektor manufaktur, untuk mengetahui kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Kebutuhan tersebut kemudian menjadi dasar dalam merumuskan program pelatihan.
“Menurut mereka anak-anak yang dibutuhkan seperti apa, itu kita coba rumuskan dan kita lakukan pelatihan,” katanya.
Ia berharap, upaya tersebut dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan kesiapan tenaga kerja lokal, sehingga pertumbuhan perusahaan dan investasi di Batam dapat diikuti dengan semakin banyaknya masyarakat setempat yang terserap ke dunia kerja.
Penulis: Engesti







