BATAM (gokepri) – Keterbatasan dapat diatasi dengan kreativitas sehingga memberikan kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus untuk belajar dan berkembang. Lewat pendidikan vokasi, mereka belajar keterampilan praktis dan manajemen keuangan, seperti yang diterapkan SLB Negeri Batam.
Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batam melatih siswanya dari jenjang SD, SMP dan SMA memproduksi telur asin sebagai bagian dari pembelajaran vokasi dan ekonomi. Selain itu, siswa juga dilatih untuk berjualan dan mengelola keuangan melalui penjualan produk pangan yang dihasilkan di sekolah.
“Sekolah kami memiliki usaha tata boga yang dikerjakan oleh anak-anak bersama instrukturnya,” ujar Kepala SLB Negeri Batam, Dian Indriany, di Batam, Jumat 20 September.
Menurut Dian, produksi telur asin dilakukan secara rutin setiap hari. Sekolah memproduksi lebih dari 10 papan telur (dengan setiap papan berisi 30 telur) untuk dibuat menjadi penganan khas Brebes, Jawa Tengah tersebut.
Namun, Dian menjelaskan produksi telur asin sering mengalami kerugian. Sekitar 30 persen telur gagal diproduksi karena keterbatasan anak-anak berkebutuhan khusus dalam melakukan kegiatan, seperti pecah akibat jatuh atau masalah lainnya.
“Kami menjalankan usaha ini sebagai bagian dari pembelajaran. Kami tidak mencari keuntungan, malah sering rugi. Misalnya, satu anak bisa memecahkan hingga 1 atau 6 telur, tapi itu tidak masalah karena tujuan kami adalah memberikan pembelajaran kepada anak-anak, bukan mencari keuntungan,” jelas Dian.
Telur asin tersebut dibuat di sekolah dan diawetkan menggunakan media abu. Setelah proses pengawetan, telur dijual oleh guru dan orang tua murid di warung-warung sekitar rumah dan sekolah.
Hasil penjualan digunakan untuk biaya produksi dan juga dikembalikan kepada siswa sebagai uang saku. Melalui penjualan ini, siswa belajar cara berjualan dan mengelola keuangan.
Selain telur asin, siswa SLB Negeri Batam juga dilatih untuk membuat aneka roti, kue, dan keripik gonggong. Namun, telur asin merupakan salah satu produk pangan yang dianggap lebih aman untuk dipasarkan kepada masyarakat.
“Kami memilih telur asin karena menurut kami, masyarakat lebih menerima produk ini dibandingkan produk pangan lainnya dari segi higienis. Kualitasnya terjaga dan tidak terkontaminasi,” ujar Dian.
Setelah dilatih dalam memproduksi pangan, siswa juga dilatih untuk berjualan. Setiap bulan diadakan “market day” di mana siswa memasarkan hasil muatan lokal (mulok) yang mereka bawa dari rumah untuk dijual di sekolah. “Mereka memasarkan hasil mulok mereka, makanan khas Melayu yang dibawa dari rumah dan dijual di sekolah,” kata Dian.
Baca: Menggambar Harapan Aisha Illona Lewat Seni Lukis
“Siswa diajarkan berjualan karena saat mereka keluar dari sekolah, mereka harus mandiri dan memiliki kemampuan, meskipun hanya dalam berjualan. Mereka juga dilatih dalam kemampuan menghitung hasil penjualan,” tambah Dian.
SLB Negeri Batam menunjukkan betapa pentingnya pendidikan vokasi yang mengintegrasikan keterampilan praktis dengan manajemen keuangan untuk siswa berkebutuhan khusus. Dengan melatih siswa dalam produksi dan penjualan telur asin, sekolah ini tidak hanya memberikan pelajaran berharga tentang ekonomi tetapi juga menginspirasi cara inovatif untuk mengatasi keterbatasan dan mempersiapkan mereka untuk masa depan yang lebih mandiri. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








