Rusdi Kirana Makin Kencang Investasi di KEK Batam Aero Technic

KEK Batam Aero Technic
Pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana, di hangar A fasilitas MRO di KEK Batam Aero Technic, Kota Batam, Kamis 21 Maret 2024. Foto: gokepri/Candra Gunawan

Batam (gokepri) – Bisnis perawatan dan bengkel pesawat milik Rusdi Kirana di KEK Batam Aero Technic makin kencang berinvestasi. Berencana membangun fasilitas baru dan membidik tenan dari luar grup usaha Lion Air.

Pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana, menyebut langkah bisnis di KEK Batam Aero Technic berikutnya adalah penambahan hangar. Hingga akhir 2023, PT Batam Aero Technic sudah memiliki enam hangar yang mampu menampung 26 pesawat. Secara bisnis penerbangan, Lion Air membidik penambahan rute dari Batam.

“(Berikutnya) penambahan hangar dan penambahan penerbangan,” ujar Rusdi di sela-sela kunjungan pemimpin redaksi media dari Jakarta dan Batam di hangar A, KEK Batam Aero Technic.

HBRL

Baca Juga:

Frekuensi terbang armada Lion Air diproyeksi bertambah padat seiring penambahan rute penerbangan. Sehingga kebutuhan intensitas perawatan pesawat di KEK Batam Aero Technic pun semakin sering.

Mantan duta besar Indonesia untuk Malaysia itu lalu menyebut beberapa rute potensial yang banyak diminati penumpang. Antara lain Batam-Kuala Lumpur yang belum lama dilayani Lion Air. “Dari Batam ke Kuala Lumpur banyak dari (turis) Korea,” ujar dia. Kemudian Lion membidik penerbangan ke Hong Kong dan penerbangan langsung dari Batam ke Korea Selatan.

Prospek bisnis perawatan pesawat milik Lion Air di Batam pun memiliki masa depan yang cerah seiring bertambahnya rute penerbangan.

Selain faktor bergeliatnya industri penerbangan, menurut Rusdi, regulasi dan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam efektif bagi Lion Air Group merealisasikan pembangunan fasilitas dengan investasi besar ini. “Per hari ini, saya merasa sangat terbantu dengan BP Batam. Birokrasinya sangat membantu. Izin pemasukan suku cadang (pesawat) dibantu dengan KEK,” ujar dia.

Hanya saja tantangan industri sekarang adalah sumber daya manusia atau kemampuan tenaga kerjanya. Lion Air membidik sampai 10.000 pekerja di KEK Batam Aero Technic hingga 2030.

Namun bagi Rusdi, penyediaan 10.000 tenaga kerja ini adalah tantangan terbesar. KEK Batam Aero Technic mengharapkan tenan lain di luar dari grup usaha Lion Air untuk bisa mencapai target ini.

“Enggak mungkin ini dibangun hanya untuk grup kami sendiri. Kami mengharapkan tenan lain, baru kita serap 10.000 karyawan,” jelas dia.

Ia pun menginginkan semua pihak memperhatikan kualitas SDM. “Kalau karyawan ini tidak punya semangat, hasil kualitasnya rendah sehingga kita tidak bisa bersaing. Padahal kita sudah diberi kesempatan, impor (suku cadang) gratis, modal tidak ada masalah tapi SDM-nya tidak ada,” sambung dia.

Realisasi Investasi BAT

Di tempat yang sama, Presiden Direktur Lion Grup, Capt Daniel Putut Kuncoro Adi mengungkapkan realisasi investasi Batam Aero Technis sudah mencapai Rp797 miilar hingga akhir 2023. Untuk diketahui, BAT beroperasi di Batam sejak 2014.

Pada 2024, BAT menargetkan total investasi mencapai Rp1,5 triliun dari target Rp7 triliun hingga 2030. Artinya, BAT akan berinvestasi lagi sekitar Rp700 miliar sepanjang tahun ini. Investasi ini mencakup perluasan lahan 30 hektare dan pembangunan fasilitas dua hangar. Per akhir 2023, BAT memanfaatkan lahan seluas 20 hektare.

Adapun dengan enam hangar sekarang, BAT mampu merawat hingga 26 pesawat sekaligus.

“Kami berharap di sebelah fasilitas (hanggar B) ini masih ada lahan kosong, mudah-mudahan oleh BP Batam bisa kami gunakan, sehingga total luas yang akan kami tempati menjadi tempat perawatan pesawat adalah 50 hektare,” ujar Daniel.

Hingga saat ini di hanggar BAT, telah mencapai 1.500 tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari Indonesia. “100 persen kita menggunakan anak-anak muda dari negara Indonesia dan mereka mendapatkan fasilitas pelatihan sebelum bekerja di sini,”

Menurutnya hal tersebut guna memberikan kesempatan kepada anak muda Indonesia untuk belajar serta memperbaiki diri, serta memiliki pengalaman dengan standar internasional.

Daniel mengatakan dengan fasilitas yang ada di BAT saat in yaitu kawasan perdagangan bebas/ free trade zone (FTZ) serta kawasan ekonomi khusus (KEK), menjadikan semangat baru bagi pihaknya untuk mempertahankan industri perawatan pesawat di Batam.

“Kami sangat optimis bahwa secara geografi 17 ribu pulau dan 270 juta penduduk ini memerlukan industri transportasi penerbangan,” kata dia.

Di luar MRO, untuk sektor logistik, BAT didukung proses logistik supply chain dan gudang (warehouse) peralatan, komponen (tools and sparepart) untuk pekerjaan yang berkaitan pabrikasi (maintenance workshop), seperti cabin interior, dapur pesawat (galley), toilet pesawat (lavatory), kompartemen bagasi kabin (headrack), furnishing (seat, cover seat, carpet, handrest), engine dan komponen baling-baling (propeller workshop), emergency equipment dan lainnya.

Di luar rencana penambahan investasi untuk membangun hangar, BAT juga membangun toko khusus, contohnya seperti pekerjaan kulit untuk jok pesawat dengan Garut, hingga mendapatkan sertifikasi Parts Manufacturer Approval (PMA).

Cek Berita dan Artikel yang lain diĀ Google News

Pos terkait