Batam (gokepri) – Impor kurma melonjak 51 persen jelang Ramadan atau Februari 2024 dibanding bulan sebelumnya.
Secara tahunan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami kenaikan impor kurma hingga 25,77 persen pada Februari 2024.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan impor kurma pada Februari tercatat naik, baik secara nilai maupun volume. Nilai impor kurma pada Februari mencapai USD17,18 juta, naik USD3,52 juta atau 25,77 persen dibanding impor pada Januari, yakni USD13,66 juta.
Baca Juga:
- Di Anambas, Gubernur Ansar Tanam Pohon Kurma dari Inggris
- Wapres Ma’ruf Amin Akan Isi Seminar Produk Halal di Tanjungpinang
- Tetap Bugar Selama Puasa dengan Makan Sehat Saat Sahur
“Sebagian besar impor kurma menjelang Ramadan berasal dari Tunisia dan Mesir,” ujar Amalia dalam Konferensi Pers Ekspor-Impor, Jumat (15/3/2024).
Dari sisi volume, impor kurma pada Februari tercatat 11,24 ribu ton, atau meningkat 51,28 persen dari volume impor Januari yang hanya 7,43 ribu ton. Kendati demikian, impor kurma pada dua bulan pertama tahun ini tercatat lebih rendah dibanding dua bulan pertama tahun lalu.
“Impor kurma sepanjang Januari-Februari paling banyak berasal dari Tuniai, Mesir, Iran, dan Arab Saudi,” kata Amalia.
Tak Ada Impor Kurma Israel
Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan tak ada kurma Israel yang beredar di pasar Indonesia. Pasalnya, Indonesia tidak melakukan impor kurma dari Israel.
“Dari data BPS, Indonesia tak melakukan impor kurma dari Israel. Impor kurma terbesar kita dari Tunisia, Mesir, Iran, dan Arab Saudi,” ujar Amalia.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan masyarakat untuk memperkuat aksi boikot produk Israel maupun yang terafiliasi dengan negara tersebut, sekalipun itu kurma saat Ramadan. MUI menekankan aksi boikot produk Israel merupakan langkah mujarab mendukung Palestina.
“Karena dengan boikot, maka kita bisa memperlemah ekonomi Israel agar tidak menyerang-nyerang lagi,” kata Ketua MUI, Prof Sudarnoto, Minggu (10/3/2024) dikutip dari laman resmi MUI.
Sudarnoto menuturkan, produk-produk yang diboikot bermacam-macam mulai dari makanan, minuman dan lain-lain. MUI, lanjut Sudarnoto, telah mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina.
Sudarnoto menjelaskan aksi boikot memiliki dampak yang sangat luar biasa. Hal ini juga sudah dibuktikan melalui tim survei.
“Cukup tinggi penerimaan masyarakat Indonesia terhadap boikot produk Israel. Bahkan saya mendengar di Eropa juga sudah melakukan pemboikotan terhadap produk-produk Israel,” ungkapnya.
Kendati demikian, Sudarnoto membantah informasi yang beredar bahwa MUI mengeluarkan daftar list produk-produk yang mendukung atau berafiliasi oleh Israel yang harus diboikot. MUI, kata dia, hanya menekankan kepada prinsip-prinsip dasar.
MUI juga memberikan imbauan kepada para penjual di Indonesia agar tidak menjual produk-produk yang mendukung atau terafiliasi dengan Israel.
Seperti halnya produk kurma yang halal dan marak dijual di bulan Ramadan, kata dia, tetapi bisa menjadi haram karena hasil penjualannya digunakan untuk membunuh warga Palestina.
“Jangan di bulan Ramadan menjual produk-produk Israel. Kurma itu halal, enak, saya juga pencinta kurma, halal dzatnya, tapi jadi haram karena uang hasil penjualannya itu untuk membunuh warga Palestina,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








