Batam (gokepri) – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menilai Batam rawan radiasi radioaktif. Sebab wilayah ini menjadi gerbang bagi negara asing masuk ke Indonesia.
Untuk meningkatkan pengawasan di kota ini, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) menggelar simulasi penanganan radiasi radioaktif di Pelabuhan Batu Ampar, Kamis 21 September 2023. Simulasi ini merupakan simulasi yang pertama penanganan radiasi radioaktif di Kepri dengan pertimbangan Batam menjadi pintu masuk negara asing. Simulasi melibatkan 70 petugas dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Satbrimob Polda Kepri, KSOP, Imigrasi, Bea Cukai, serta beberapa rumah sakit dan serta tim Jihandak.
Kepala KKP Kelas I Batam Ahmad Hidayat mengatakan simulasi tersebut berhasil dilakukan dengan sempurna hingga pada tahap pengamanan limbah radiasi dan pembebasan karantina. Ia mengatakan Batam menjadi pintu masuk internasional sehingga kota ini berisiko radiasi nuklir.
Baca Juga:
- Jepang Buang Limbah Radioaktif Hasil Olahan Fukushima ke Laut
- Imbas Pembuangan Air Radioaktif, China Setop Impor Hasil Laut Jepang
- BP Batam Ungkap Pengoperasian HCVM X-Ray Gantikan Gamma Ray

Adapun simulasinya berupa skenario ada penumpang dari negara luar yang masuk ke Indonesia. Kemudian ada kru kapal yang sakit. “Setelah kami lakukan pemeriksaan awal ternyata menunjukkan gejala-gejala terkena radiasi radioaktif. Kemudian kami lakukan pertolongan terhadap korban, lalu melakukan pemeriksaan kepada seluruh untuk mencari sumber penyebabnya,” ujar Ahmad. Menurut dia, simulasi itu menjadi penting bagi semua petugas di pelabuhan untuk memiliki kemampuan dan pemahaman atas penanganan radiasi nuklir.
Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Zulkarnain menilai pelaksanaan simulasi tersebut penting karena posisi strategis Kota Batam sebagai pintu masuk negara yang rawan terhadap paparan radiasi radioaktif dan bahan nuklir. Ia menyampaikan terhadap beberapa contoh kasus ekspor impor barang yang mengandung radioaktif pernah terjadi di Indonesia. “Termasuk kasus pengangkutan bahan nuklir yang melewati perairan Indonesia. Kegiatan ini diharapkan mampu mewujudkan sikap tanggap darurat petugas serta kesiapan saran kesehatan,” ujar Zulkarnain.
Ia menjelaskan sebagai upaya pencegahan munculnya penyakit yang berasal dari unsur biologi, kimia, radioaktif dan bahan nulkir di pintu masuk negara. “Batam itu adalah pelabuhan internasional mempunyai potensi tinggi karena ini Kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebasc, kapal-kapal berbagai negara masuk kesini, ancaman secara otomatis tinggi. Oleh karena itu di pintu masuk utama ini harus dilakukan deteksi yang ketat,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti Fedro









