Siswa SMPN 56 Batam Olah Sampah Plastik Jadi Kursi Ecobrick

Sekda Kota Batam Jefridin menerima hadiah kursi ecobrick dari SMPN 56 Batam. Foto: Diskominfo Batam.

Batam (gokepri.com) – Siswa SMPN 56 Batam punya ide kreatif untuk mengolah sampah plastik, yaitu menjadikannya sebagai kursi ecobrick.

Ecobrick atau dikenal dengan bottle brick atau eco ladrillo merupakan botol plastik yang diisi padat dengan limbab non-biological.

Kreativitas para siswa SMPN 56 Batam ini mendapat apresiasi dari Sekretaris Daerah (Sekda) Batam Jefridin saat ia mengunjungi sekolah tersebut, Rabu 7 Juli 2023.

HBRL

Baca Juga: Sinar Mas Land dan Chandra Asri Manfaatkan Sampah Plastik Menjadi Aspal

Jefridin mengatakan kursi dari limbah sampah plastik buatan para siswa SMPN 56 Batam ini sangat keren, tidak kalah dengan kursi buatan pabrik.

“Jika dilihat dari fisiknya, tidak tampak jika bahan yang digunakan adalah sampah plastik,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemko Batam.

Jefridin mengatakan kursi ecobrick ini sangat ramah lingkungan karena merupakan salah satu langkah dalam memanfaatkan limbah sampah plastik yang ada di Kota Batam.

Menurut dfia, kreativitas yang dilakukan siswa dan guru di SMPN 56 batam ini patut menjadi contoh bagi sekolah dan masyarakat di Kota Batam dalam meminimalisir sampah.

Jefridin pun mendapat hadiah kursi ecobrick tersebut di akhir kunjungannya ke sekolah yang terletak di Kecamatan Sekupang tersebut.

“Terima kasih karena sudah menghadiahi Saya satu karya yang sangat luar biasa. Buah karya dari anak-anak kita dan tentunya tidak terlepas dari motivasi guru di SMPN 56,” kata Jefridin.

Ia berpesan sebagai salah satu Sekolah Penggerak di Kota Batam, para siswa dan guru diminta terus berkreasi menghasilkan karya yang unggul dan memiliki nilai ekonomis.

Kepala SMP 56 Batam Nurhayati mengatakan SMPN 56 Batam sebagai Sekolah Penggerak Angkatan ke-2, SMPN 56 Batam membuat tiga project.

Project pertama adalah membatik, kursi ecobrick dan meluncurkan majalah digital. Ia menjelaskan pembuatan ecobrick dimulai dengan menyiapkan sampah plastik yang banyak kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik yang sama besar.

“Untuk botol dengan ukuran 1,5 liter dibutuhkan 19 botol bekas dan sampah plastik sebanyak 13 kilo. Ini sampah plastik yang diperlukan untuk membuat satu kursi ecobrick disamping kebutuhan lainnya seperti busa, kain penutup,” jelas Nurhayati.

Pelaksanaan berbagai kegiatan ini kata dia bertujuan untuk mengembangkan potensi para siswa agar lebih mandiri serta memberikan inovasi, kreativitas siswa untuk mengolah sampah plastik menjadi benda yang memiliki nilai lebih dan bermanfaat.

Sedangkan majalah digital GEMA 56 dibuat dalam rangka meningkatkan kemampuan dan peran serta siswa dalam berliterasi.

Menurutnya literasi bukan hanya membaca saja, termasuk kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi, membaca, berbicara, menyimak dan menulis.

“Kenapa majalah digital karena kita ingin menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” kata Nurhayati.

Majalah digital itu akan menjadi wadah para siswa untuk belajar, mengasah kemampuan dalam menulis.

“Siswa kami sudah ada naskah cerpennya dinilai terbaik di tingkat nasional. Dari 12 tulisan yang dikirim, 9 tulisan berhasil menjadi pemenang,” ujarnya.

Launching Majalah Digital GEMA 56 ini telah dilakukan pada 25 Mei 2023 dan majalah tersebut sudah didaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Sedangkan untuk proyek membatik menurutnya merupakan Kegiatan tema proyek. Berdasarkan kearifan lokal dikembangkan 3 motif batik yakni, motif kerang kipas, motif siput mata lembu dan motif gonggong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

***

Pos terkait