Inflasi Batam: Berapa Persen Barang-Barang Naik Harga?

Inflasi
Ilustrasi. foto: istimewa

BATAM (gokepri) – Inflasi menyebabkan banyak komoditas kebutuhan di Batam mengalami kenaikan harga sepanjang 2022. Pemicunya adalah kenaikan harga energi dan bahan pangan.

Secara tahunan atau Desember 2021 ke Desember 2022, inflasi Batam mencapai 5,95 persen. Level ini adalah yang tertinggi setidaknya dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, inflasi Batam pada 2021 hanya 2,45 persen, 2020 1,12 persen, 2019 1,97 persen dan 2018 3,65 persen.

Komponen harga yang paling drastis mengalami kenaikan harga di Batam pada 2022 adalah sektor transportasi dan kelompok makanan, minuman, tembakau. Kelompok transportasi tercatat naik 17,31 persen sedangkan makanan, minuman, tembakau naik sebesar 7,6 persen.

HBRL

Inflasi batam
Data: BPS

Adapun komoditas yang mengalami kenaikan harga terbesar sepanjang 2022 yakni:

  • Kangkung: +131,87%
  • Bayam: +72%
  • Angkutan Udara: +56,27%
  • Bensin: +26,6%
  • Sabun Detergen Bubuk/Cair: +22,55%
  • Rokok Kretek Filter: 19,49%
  • Telur Ayam: +17,3%
  • Rokok Putih: +13,26%
  • Daging Ayam: +10,69%
  • Kontrak Rumah: +7,99%

Ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, yakni:

  • Biaya Administrasi Transfer Uang: -27,6%
  • Brokoli: -26,03%
  • Bawang Putih: -22,29%
  • Wortel: -20,42%
  • Cabai Rawit: -12,67%
  • Penggorengan: -8,63%
  • Baju Muslim Anak: -7,15%
  • Minyak Goreng: -6,68%
  • Telepon seluler: -4,13%
  • Beras: 1,29%

Risiko Januari 2023

Memasuki bulan Januari 2023, Bank Indonesia Kepri menyatakan risiko tekanan inflasi diperkirakan sedikit menurun. Namun, terdapat beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, antara lain: peningkatan curah hujan dan dampak musim angin utara yang berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas bahan pangan terutama komoditas cabai, sayur, dan ikan di tengah permintaan yang meningkat menjelang hari raya Imlek.

Lalu pencabutan aturan PPKM yang mendorong kenaikan mobilitas dan permintaan jasa angkutan; serta kenaikan cukai rokok tembakau dan rokok elektrik.

“Sehubungan dengan hal tersebut, TPID di Kepri akan terus memperkuat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) yang dilakukan dengan melaksanakan pertemuan mingguan guna mengantisipasi kenaikan inflasi ke depan,” jelas Wakil Ketua TPID Kepri yang juga Deputi Kepala BI perwakilan Kepri, Adidoyo Prakoso.

Upaya pengendalian inflasi pada tahun ini juga akan dilakukan melalui perluasan dan penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang telah dimulai pada tahun lalu. Sebagaimana diketahui, GNPIP merupakan langkah nyata pengendalian inflasi di tengah ekspektasi inflasi yang tinggi sebagai pengaruh dari kenaikan inflasi global.

Gerakan ini dilakukan secara nasional dan berfokus pada tiga program utama yakni meningkatkan produksi pangan, memperkuat kerja sama antar daerah dan stabilisasi harga pangan melalui pelaksanaan operasi pasar.

Simak Videonya:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Baca Juga: 

Penulis: Candra Gunawan

Pos terkait