Batam (gokepri.com) – Proyek rumah sakit internasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sekupang, Batam, baru bisa dibangun setelah peraturan pemerintah (PP) KEK tersebut terbit.
Kepala BP Batam Muhammad Rudi mengungkapkan lembaganya menunggu persetujuan pemerintah pusat tentang penetapan KEK Kesehatan Sekupang.
“Kalau tahun ini Kepres KEK-nya keluar baru kami lanjutkan,” kata Rudi, Jumat saat ditemui di Kantor DPRD Sabtu 13 Agustus 2022.
Ia berharap pemerintah pusat segera merealisasikan status lahan tersebut menjadi KEK. Sebab, jika kawasan itu mendapat insentif khusus maka ada pembebasan pajak untuk perlengkapan dan peralatan kesehatan yang masuk Kota Batam.
“Dokter asing bisa praktik di sana. nantinya bisa menjadi kawasan kesehatan yang baik,” kata dia.
Selain Rumah Sakit Internasional di kawasan itu rencananya bakal dibangun nniversitas kesehatan. BP telah menggandeng investor asal Timur Tengah, akan masuk Batam. Nilai investasi yang disiapkan sekitar Rp7 triliun.
“Dalam waktu dekat, akan dibangun sebuah rumah sakit dan kampus kedokteran yang akan dibangun di kawasan KEK Jesehatan di Sekupang,” kata Rudi.
Rudi mengatakan investor tersebut sudah mengajukan lahan sekitar 20 hektare. Sebagai gambaran, tencana KEK Kesehatan di Sekupang, diajukan BP Batam ke pemerintah pusat. KEK Kesehatan dibangun sebagai bagian dari Indonesia Health Tourism Board (IHTB), untuk wisata medis atau medical tourism nasional. Dengan demikian, Sekupang, nantinya akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Internasional Sehat (KIS).
Saat ini Batam memiliki dua KEK yakni KEK Nongsa dan KEK Batam Aero Technic. KEK Nongsa yang dikembangkan untuk industri teknologi dan ekonomi kreatif ditetapkan melalui PP No.68/2021. Sedang KEK Batam Aero Technic untuk industri pesawat terbang dan ditetapkan melalui PP Np.67/2021.
Anggota Bidang Kebijakan Strategis BP Batam, Enoh Suharto Pranoto, mengharapkan, rencana pengembangan KEK KIS dapat menangkap peluang wisatawan medis. BP Batam menerima masukan berkaitan model kerjasama yang bisa dikembangkan karena diharapkan Batam, mendapatkan partner internasional.
Terutama yang selama ini berobat ke luar negeri. Wisata medis diharap dapat berkembang, tanpa mengganggu pelayanan medis yang ada saat ini.
“Pengembangan KEK KIS ini juga dapat menciptakan ekosistem medis yang mendukung kawasan kesehatan seperti industri farmasi, alat kesehatan dan jasa akomodasi,” kata Enoh belum lama ini.
BP Batam saat ini tengah menyusun rencana pengembangan KEK Kesehatan Internasional Sekupang, untuk menangkap potensi pasar kesehatan Indonesia, dimana sebelum kondisi pandemi, pengeluaran pasien untuk berobat ke Luar Negeri mengalami peningkatan dari tahun 2015 hingga 2019.
“Untuk itu, perlu adanya suatu strategi pengembangan, pemasaran, dan model kerjasama kawasan kesehatan bertaraf internasional yang tepat sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia,” katanya.
Penulis: Engesti








