INDUSTRI GALANGAN KAPAL BATAM: Peluang Bisnis Masih Cerah

Prospek industri galangan kapal
Ketua Batam Shipyard and Offshore Association (BSOA) Suri Teo di pameran Indonesia Marine & Offshore Expo 2022 di Radisson Golf and Convention Center, Kota Batam, 3 Agustus 2022. Gokepri/Engesti

Batam (gokepri.com) – Industri galangan kapal di Batam optimistis prospek bisnisnya cerah melihat meningkatnya kebutuhan armada kapal.

Ketua Batam Shipyard and Offshore Association (BSOA) Suri Teo mengungkapkan geliat sektor pertambangan mendorong peningkatan kebutuhan armada kapal yang diproduksi industri galangan kapal.

Ia melihat meningkatnya produksi dan permintaan bahan mineral dalam negeri seperti nikel, bauksit dan batu bara.

HBRL

Peningkatan produksi termasuk pembangunan smelter menyediakan peluang besar bagi sektor industri galangan kapal yang memproduksi kapal dan perawatan.

“Kita melihat dengan adanya smelter nikel di Kendari, Sumatera Utara dan juga smelter di Kepri di Bintan sehingga kebutuhan armada kapal masih meningkat,” ungkap Suri Teo di sela-sela pameran Indonesia Marine & Offshore Expo 2022 di Radisson Golf and Convention Center, Rabu 3 Agustus 2022. “(Prospek) ke depannya sangat positif.”

Suri menjelaskan dengan adanya fasilitas pengolahan hasil tambangĀ atau smelter di beberapa daerah membuat industri galangan kapal di Batam akan bangkit.

Ia bilang selama ini permasalahan matinya industri galangan kapal karena tidak adanya permintaan dari dalam negeri maupun luar negeri akan fasilitas smelter.

“Karena smelter ada, kita tinggal angkut dari Indonesia. Dari Kalimantan atau Sulawesi ke Kepri. Dan info terbaru di Kalimantan ada pabrik nikel yang terbaru,” tutur Suri Teo. “Kendala tidak ada, mereka pasti membutuhkan kami (galangan) baik kapal tongkang dan tugboat sebagai angkutan laut. Jadi kebutuhan kapal pasti meningkat karena ada peremajaan kapal,” tambahnya.

Ia mencontohkan, seperti Smelter nikel di Sulawesi Utara membutuhkan hampir 300 kapal. Sehingga ini peluang apalagi dengan adanya geopolitik antara Rusia dan Ukraina membuat industri galangan kapal lebih diuntungkan.

“Mengalami peningkatan. Sebelumnya semelter itukan kosong, jadi kita butuh kapal baru, dari galangan akan membuat. Batu bara kita kan primadona jadi sekarang momentum bangkit industri galangan di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan catatan gokepri.com, industri galangan kapal di Batam meredup dalam beberapa tahun terakhir. Indikatornya bercermin dari jumlah industri di kota perdagangan bebas ini yang terus menyusut dari tahun ke tahun.

Mengacu data Kementerian Perindustrian pada 2014 saja, jumlah industri galangan kapal di Batam mencapai 110 unit dan mampu menyerap 250.000 pekerja. Namun jumlah industri dan pekerjanya diyakini menyusut sejak 2017 karena minimnya pekerjaan yang mereka dapat. Data itu juga menunjukkan dari 250 industri galangan di Indonesia, sekitar separuhnya ada di Batam.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait