Batam (gokepri.com) – Sejumlah pedagang di kota Batam mengatakan, pasokan daging segar hanya cukup untuk sepekan. Hal itu disebabkan langkanya pengiriman hewan akibat Penyakit Mulut dan Kuku (PKM) di sejumlah daerah.
Salah seorang pedagang di pasar Mega Legenda Munir (27) mengaku, stok daging segar di kedainya hanya cukup untuk sepekan.
“Stok saya mungkin cukup untuk 1 minggu ke depan saja,” katanya saat ditemui, Senin 23 Mei 2022.
Dengan keterbatasan pasokan daging segar di kedainya saat ini Munir memperkirakan harga daging sapi segar akan melonjak dalam waktu dekat. Saat ini harga daging segar di pasar tradisional mencapai Rp 140 ribu per kilogram, sebelumnya hanya Rp 120 ribu per kilogram.
“Ini masih kita jual biasa 140, untuk kedepannya pasti naik, karena stok barang terbatas, apalagi sapi,” katanya.
Dirinya mengatakan, ada alternatif lain seperti daging sapi beku yang masih di jual. Namun, stoknya semakin hari semakin menipis.
“Ada daging beku sebenarnya cukup soalnya distributorya banyak tapi, tahan berapa lama la,” katanya.
Ia berharap kendala pasokan sapi di Batam segera di atasi dengan sigap.
“Kalau bisa kendala seperti ini bisa di atasi, semua kena dampaknya , apalagi jelang Idul Adha,” kata dia.
Hal serupa dikatakan pedagang lainnya, yang menyatakan bahwa pasokan daging sapi segar di kedainya mulai menipis.
“Iya udah tinggal dikit ini dagingnya, memang dari ‘stok’ di kandangnya tinggal dikit juga,” kata seorang pedagang daging segar, Kadi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam Mardanis menyatakan pihaknya memang tidak menerima hewan kurban dari daerah lain.
“‘Suplai’ dari Lampung belum masuk. Sapi biasanya lewat Kuala Tungkal, Jambi kalau mau ke Batam,” ungkapnya.
Pemerintah Jambi, kata dia, belum menerima perjalanan transit pengiriman sapi dari Lampung, karena temukan kasus PMK di daerah setempat.
Pemko Batam masih menunggu kebijakan Kementerian Pertanian RI terkait ketersediaan hewan kurban jelang Idul Adha.
“Jadi kita tunggu sampai ada keputusan dari kementerian tentang Idul Adha ini, pasti ada kebijakan kementerian tentang itu,” kata Mardanis.
Penulis : Engesti









