Wakil Bupati Lingga Neko: Kritik Itu Suplemen, Sindiran Itu Vitamin

Wakil Bupati Lingga Neko
Wakil Bupati Kabupaten Lingga Neko Wesha Pawelloy. (Foto: istimewa)

Lingga (gokepri.com) – Kinerja Pemkab Lingga mendapat kritikan dan sindiran di media sosial. Wakil Bupati Neko Wesha Pawelloy justru bersyukur karena masih ada yang mengingatkan soal kinerjanya bersama Bupati Muhammad Nizar.

“Alhamdulillah ketika ada yang menyindir atau mengkritik itu bagi saya sebagai vitamin dan suplemen. Artinya bersyukur kami masih ada yang mengingatkan,” ujar Neko, Kamis 17 Maret 2022.

Neko menyatakan kritikan dan sindiran dibutuhkan dalam menjalankan roda pemerintahan. “Agar tetap istiqomah,” kata dia lagi.

HBRL

Neko mengaku sekarang hanya terfokus bagaimana bekerja maksimal selama menjabat sebagai wakil bupati dan mendampingi bupati Lingga hingga selesai masa jabatan yang tinggal beberapa tahun lagi.

Sosok politisi muda ini hanya berharap kepada masyarakat agar menyampaikan kritik atau sindiran kepada pemerintah atau kepada siapapun itu baik sesama masyarakat atau individu lain, agar disampaikan dengan bahasa yang santun sehingga tidak merugikan masyarakat itu sendiri karena saat ini momen-momen seperti itu sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum.

“Kami tunjukan jati diri kita sebagai orang Melayu yang santun berbudaya sehingga orang-orang di luar sana senang dengan kampung kita ini, dan itu tentu akan mendatangkan rezeki juga bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya jika terlalu sering memberikan kesan negatif kepada daerah, hal itu justru yang rugi bukan hanya kepala daerah atau wakil kepala daerah, tapi hal itu bisa berdampak bagi seluruh masyarakat Kabupaten Lingga dan Kabupaten Lingga itu sendiri. Apalagi di era teknologi media sosial yang saat ini dapat diakses dengan mudah ke seluruh dunia.

“Coba kita bayangkan ada anak kita yang sekolah di luar negeri anak Lingga atau Dabo, kawan-kawannya update media sosial melihat kampungnya selalu diisukan negatif, tentu yang berdampak anak-anak itu juga, nah di sinilah pentingnya kita menyampaikan dengan santun,” ujarnya.

Bahkan ia mengaku sudah pernah mewadahi masyarakat untuk memberikan kritik yang paling keras kepada dirinya, melalui pantun sebagai salah satu ciri khas orang melayu.

“Kemarin yang menang pantun itu, yang paling sakit-sakit bahasanya kita menangkan ada yang kalah itu karena objeknya kurang jelas orang yang menyampaikan dan busana yang digunakan itu saja, bukan karena kritiknya,” ujarnya sembari tersenyum.

Penulis: Tambunan

Pos terkait