Batam (gokepri.com) – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M. Tito Karnavian menyatakan, dibutuhkan tambahan tenaga kesehatan untuk melayani pekerja migran Indonesia (PMI) yang tengah menjalani karantina dan perawatan Covid-19 di Kota Batam, sepulangnya dari Malaysia.
“Perlu tambahan tenaga kesehatan dan obat-obatan. Ini nanti disampaikan pada rapat di tingkat pusat,” kata Mendagri, melalui keterangan tertulisnya, usai meninjau proses kedatangan PMI di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Kota Batam, Sabtu (8/5/2021).
Menurut Mendagri, solusinya adalah tambahan tenaga kesehatan dari daerah yang penularan Covid-19 relatif lebih sedikit. “Atau TNI Polri, yang paling cepat biasanya TNI Polri,” kata Mendagri
Mendagri menegaskan, Batam memiliki fasilitas tempat karantina yang cukup untuk PMI yang negatif Covid-19. Hingga kini masih terdapat sejumlah gedung yang bisa dipakai.
Ia melanjutkan, yang menjadi masalah adalah fasilitas untuk melayani yang positif Covid-19. Karena kapasitas di RSKI Pulau Galang terbatas, serta tambahan tenaga kesehatan dan obat-obatan.
Mendagri mengatakan, angka kepulangan PMI ke Tanah Air menjelang Hari Raya Idulfitri melonjak. Hingga saat ini, Batam adalah satu-satunya pintu masuk PMI. Karena itu, maka beban pemerintah daerah setempat menjadi tinggi.
“Di Batam kami lihat, informasi dari gubernur hampir 200-an orang masuk setiap hari,” katanya.
Setiap PMI yang masuk harus membawa surat yang menyatakan negatif Covid-19. Meski faktanya di lapangan sekitar 30 persen dari mereka ternyata positif terpapar virus corona dalam pemeriksaan tes usap PCR, setibanya di pelabuhan Batam. Seluruh PMI yang positif itu kemudian dirawat di RSKI Pulau Galang.
Sementara yang negatif pada swab pertama harus menjalani karantina selama lima hari. Kemudian menjalani tes usap Covid-19 kedua. Apabila sudah negatif, baru bisa pulang ke kampung halamannya. (wan)









