BATAM (gokepri.com) – Di sela hiruk-pikuk tugas pemerintahan dan dinamika politik daerah, ada satu perjalanan panjang yang diam-diam ditempuh Wali Kota Batam Amsakar Achmad—perjalanan sunyi menuju Tanah Suci.
Bagi Amsakar, panggilan haji bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia adalah hasil dari kesabaran yang dirajut selama puluhan tahun. Dengan nada ringan, ia sempat mengoreksi ceritanya sendiri. Awalnya ia mengira mulai menabung sejak menjabat Kepala Bagian Organisasi, namun kemudian diingatkan sang istri—perjalanan itu ternyata dimulai saat ia menjadi kepala dinas, sekitar dua dekade lalu.
“Ya, sekitar 20-21 tahun lah,” ujarnya.
Sejak saat itu, sedikit demi sedikit ia menyisihkan penghasilan. Tidak ada langkah besar, hanya cicilan kecil yang konsisten. Baginya, menunaikan ibadah haji memang bukan perkara instan—ia adalah ikhtiar panjang yang menuntut ketekunan.
Kesempatan itu akhirnya datang, meski sempat tertunda. Tahun lalu, ia sebenarnya sudah mendapat panggilan. Namun situasi belum memungkinkan. Pilkada yang menyita perhatian dan tanggung jawab besar membuatnya memilih menunda keberangkatan.
“Saya minta ditunda karena masih banyak urusan administrasi dalam konteks pilkada,” katanya.
Kini, panggilan itu datang kembali. Dengan penuh syukur, Amsakar bersiap berangkat pada 21 Mei dan dijadwalkan kembali 30 Juni, menempuh sekitar 40 hari di Tanah Suci. Perjalanan ini terasa semakin bermakna karena terakhir kali ia berhaji sekitar 25 tahun lalu, saat masih menjabat di level yang jauh lebih awal dalam kariernya.
Namun, perjalanan kali ini berbeda. Ia tidak lagi berangkat sebagai bagian dari fasilitas jabatan, seperti pada 2019 saat menjadi koordinator rombongan (karom) yang memungkinkan keberangkatan lebih cepat. Tahun ini, ia memilih jalur reguler—jalan yang sama dengan mayoritas masyarakat.
“Saya ingin melaksanakannya sebagaimana masyarakat kita melaksanakannya,” tuturnya.
Pilihan itu mencerminkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ibadah: keinginan untuk merasakan proses yang sama, menunggu dalam antrean panjang, dan menjalani setiap tahapan dengan kesabaran yang setara.
Di tengah persiapannya, Amsakar juga menitipkan pesan kepada warga Batam. Ia mengingatkan bahwa waktu tunggu haji yang semakin panjang menuntut kesiapan sejak dini.
“Kalau energinya masih kuat, mulailah mencicil sekarang,” pesannya. Menabung, menurutnya, bisa dimulai dari hal kecil, disesuaikan dengan kemampuan penghasilan. Yang penting adalah konsistensi.
Lebih dari itu, ia juga menekankan bahwa ibadah haji bukan semata perjalanan fisik, melainkan ujian kesabaran dan kebersamaan. Ia mengingatkan para jemaah untuk menjaga kesehatan, kekompakan, serta memastikan seluruh rukun dan kewajiban ibadah dijalankan dengan baik.
“Ikuti rukun dan wajibnya dengan baik, jangan sampai ada yang terlewat,” tegasnya.
Di balik jabatan dan kesibukan sebagai kepala daerah, kisah Amsakar adalah potret tentang ketekunan yang sederhana: menabung perlahan, menunggu dengan sabar, dan akhirnya memenuhi panggilan yang diyakini datang pada waktu terbaik.
“Pelan-pelan dicicil, akhirnya sampai juga lah ke masa kita dipanggil oleh Allah,” ucapnya.
Ia pun berharap, perjalanan ini tidak hanya menjadi ibadah pribadi, tetapi juga membawa pulang makna yang lebih luas—bagi dirinya, dan bagi masyarakat yang ia layani.
“Semoga semua diberikan kesehatan, kelancaran, dan membawa pulang haji yang mabrur dan mabrurah.”
Penulis: Engesti










