BATAM (gokepri) — Batam mulai mengurangi ketergantungan impor industri migas. Capaian TKDN mendekati 70 persen menjadi penanda kesiapan industri nasional.
Penilaian itu datang dari Komisi XII DPR RI, yang mendorong percepatan substitusi impor di sektor hulu migas seiring capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri di Batam yang telah mendekati 70 persen.
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyebut capaian TKDN sebesar 69,68 persen sebagai sinyal kuat bahwa industri dalam negeri sudah memiliki daya saing. Ketergantungan pada produk impor, terutama dari negara tetangga, dinilai tak lagi mutlak.
Baca Juga: Bagaimana Industri Hulu Migas Menggerakkan Ekonomi Kepri
“Selama ini industri migas identik dengan impor. Di Batam justru sebaliknya, TKDN sudah mendekati 70 persen. Ini modal besar untuk mendorong substitusi impor,” kata Bambang usai kunjungan kerja Panitia Kerja Migas Komisi XII ke PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) di kawasan industri Kabil, Nongsa, Batam, Kamis (5/2/2026).
Hasil peninjauan lapangan, menurut Bambang, menunjukkan bahwa basis industri penunjang hulu migas nasional telah terbentuk. Kemampuan teknologi, kualitas produk, hingga inovasi industri di Batam dinilai mampu bersaing dengan pusat industri migas kawasan, seperti Singapura.
Karena itu, Komisi XII mendorong agar penggunaan produk dan jasa dalam negeri semakin dioptimalkan, terutama dalam proyek-proyek hulu migas nasional. Upaya tersebut perlu dibarengi investasi lanjutan dan penguatan inovasi agar rantai pasok domestik semakin kokoh.
“Substitusi impor bukan hanya soal regulasi. Industri harus benar-benar siap, dan Batam sudah menunjukkan kesiapan itu,” ujar Bambang.
Ia juga menyinggung pentingnya keberpihakan terhadap produk baja nasional, khususnya produksi PT Krakatau Steel, di tengah masuknya baja impor murah dari China. Komitmen terhadap industri dalam negeri dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan sektor strategis nasional.
Keunggulan lain Batam terletak pada kawasan industrinya yang terintegrasi langsung dengan pelabuhan internasional. Produk peralatan migas dapat dikapalkan ke pasar global tanpa harus melalui negara lain, memangkas biaya dan waktu distribusi.
Saat ini, industri penunjang hulu migas di Batam menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja. Sekitar 98 persen di antaranya merupakan tenaga kerja lokal, yang memberi kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah dan nasional.
Dari sisi pelaku usaha, pimpinan PT Dwi Sumber Arca Waja Kris Wiluan menilai kunjungan Komisi XII sebagai sinyal positif bagi dunia industri.
“Sejak awal kami membangun industri ini agar Indonesia tidak terus bergantung pada fasilitas luar negeri. Batam punya potensi besar menjadi basis substitusi impor industri migas,” kata Kris.
Ia menjelaskan, sebelumnya proses pabrikasi peralatan migas banyak dilakukan di Singapura. Kini, seiring tumbuhnya industri di Batam, ketergantungan tersebut mulai berkurang dan devisa yang keluar negeri bisa ditekan.
Menurut Kris, perkembangan industri penunjang hulu migas di Batam juga mendorong tumbuhnya perusahaan lokal, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat struktur industri nasional.
Baca Juga: Lenovo Rakit Laptop AI dan Desktop di Batam, TKDN Capai 41 Persen
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








