3 Desa di Bintan Jadi Lokasi Penerapan WASH di Indonesia

Gubernur Kepri dan pihal Looa Adventure menyerahkan sertifikat untuk trainer progra WASH. Foto: Diskominfo Kepri.

BINTAN (gokepri.com) – Tiga desa di Bintan jadi lokasi penerapan program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) di Indonesia.

Program tersebut merupakan inisiasi tim Safe Water Garden bekerja sama dengan Global Water Partnership, Universitas Gadjah Mada, UMRAH, dan mendapatkan hibah dari Tauw Foundation.

Melalui program tersebut tiga desa di Bintan yaitu Desa Busung, Kuala Sempang, dan Pengujan dibangun fasilitas sanitasi untuk 58 kepala keluarga (KK).

Baca Juga: Polres Bintan Gelar Police Go To School, Beri Penyuluhan Pelajar

Program WASH berhasil menghasilkan fasilitas yang meliputi sistem sanitasi berupa septic tank, wastafel dapur, tandon air, dan water filter. Program ini telah menghasilkan dampak yang positif, dengan terpasangnya 48 unit SWG (Safe Water Garden), 5 tandon air, 51 wastafel dapur, 46 toilet, dan 58 filter Nazava.

Sebanyak 216 warga dari 58 kepala keluarga telah terdampak positif oleh program ini, serta munculnya 13 usaha mikro baru.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad meresmikan program tersebut di Kantor Busung Bintan, Senin 20 Juni 2023 lalu.

“Masalah sanitasi dan air bersih adalah hal mendasar yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, sehingga butuh perhatian dan penanganan khusus,” ujarnya.

Ia pun mendukung dan mendorong upaya peningkatan kualitas hidup lewat berbagai program kesehatan.

“Sanitasi dan air bersih menjadi hal pertama yang kita tangani dulu,” kata dia.

Ia mengapresiasi para pihak yang terlibat yaitu Pemerintah Kabupaten Bintan dan Loola Adventure.

“Saya juga mengimbau seluruh masyarakat agar selalu memperhatikan kebersihan dan kesehatan, karena faktor utama kesuksesan kegiatan ini secara bersama-sama menjaga kebersihan,” kata Ansar.

Founder Safe Water Garden sekaligus pemilik Loola Adventure Resort, Dr. Marc Van Loo, mengungkapkan pendanaan program ini tidak sepenuhnya menggunakan dana penyandang program, namun juga menggandeng dana desa sebesar 50 persen.

Hal ini menunjukkan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam memajukan program ini.

“Meskipun program serupa biasanya didanai sepenuhnya, namun melibatkan dana desa sebagai salah satu sumber pendanaan memberikan peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat lokal,” katanya.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat, SWG juga mengadakan pelatihan kepada enam orang sebagai trainer yang akan melanjutkan pembinaan WASH di desa-desa lainnya.

Kehadiran para trainer WASH, desa-desa lain yang ingin menerapkan program WASH bisa mendapatkan pengetahuan dari trainer yang telah dilatih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

***