BATAM (gokepri.com) — Ketua DPD Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI) Provinsi Kepulauan Riau, Saipul Badri, menegaskan pentingnya sinergi lintas elemen dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh, seiring perubahan zaman dan tantangan yang semakin kompleks.
Dalam kegiatan peringatan Hari Buruh tahun ini di Batam, SPSI menggelar aksi nyata berupa pembersihan lingkungan dengan mengangkut puluhan ton sampah dari berbagai wilayah.
“Perjuangan buruh tidak selalu soal tuntutan. Ada saatnya kita menunjukkan kemampuan bersinergi, berdialog, dan menghadirkan solusi,” kata Saipul.
Ia menjelaskan, sebanyak sekitar 60 truk dikerahkan secara serentak di seluruh kecamatan di Kota Batam. Dalam waktu sekitar dua jam, aksi tersebut berhasil mengangkut lebih dari 50 hingga 60 ton sampah.
“Ini bukan mengambil alih tanggung jawab pemerintah, tetapi sebagai pesan moral dan edukasi kepada masyarakat bahwa lingkungan bersih adalah bagian dari kesejahteraan,” ujarnya.

Menurut Saipul, isu sampah di Batam masih menjadi perhatian, terutama dengan maraknya tempat pembuangan liar. Karena itu, keterlibatan semua pihak dinilai penting untuk mengatasi persoalan tersebut.
Ia juga menekankan bahwa gerakan buruh harus beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan dinamika sosial-politik. “Kalau pergerakan buruh monoton, kita akan tertinggal. Kita harus hadir bukan hanya sebagai pengkritik, tetapi juga pemberi solusi,” katanya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa sinergi antara buruh, masyarakat, pedagang, petani, dan pemerintah menjadi kunci dalam mencapai tujuan bersama. “Pemerintah tidak akan kuat tanpa dukungan rakyat. Semua persoalan harus didiskusikan bersama,” tambahnya.
Kegiatan sosial ini merupakan tahun kedua yang dilakukan SPSI Kepri dalam momentum Hari Buruh. Tahun sebelumnya, organisasi tersebut juga melakukan aksi berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir, termasuk mendukung budidaya perikanan bagi nelayan.
Melalui kegiatan ini, SPSI berharap dapat memperkuat kesadaran kolektif bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari upah, tetapi juga dari kualitas lingkungan hidup.*
Penulis: Engesti









