BATAM (gokepri.com) – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kota Batam, Kepuluan Riau, mendapat perhatian serius dari Badan Gizi Nasional seiring muncul dugaan gangguan keamanan pangan. Evaluasi menyeluruh tengah dilakukan terhadap seluruh dapur SPPG yang tersebar di wilayah ini.
Ketua Koordinator SPPG Wilayah Batam, Defri Frenaldi, mengatakan saat ini terdapat 74 dapur SPPG yang telah memiliki Surat Keputusan (SK) operasional, dengan 188.742 penerima manfaat, mulai dari anak-anak PAUD hingga ibu hamil dan menyusui.
“Yang masih aktif beroperasi tinggal 59 dapur dari 74 dapur. Beberapa di antaranya, termasuk yang berada di wilayah Sagulung, dihentikan sementara karena diduga melanggar standar keamanan pangan,” ujar Defri di Batam, Rabu 1 Oktober 2025.
Penghentian ini, lanjutnya, akan berlangsung hingga proses evaluasi dan pemeriksaan selesai dilakukan oleh pihak terkait, termasuk BPOM dan Badan Gizi Nasional.
Dia mengatakan, seluruh SPPG di Batam diminta segera mengurus Sertifikat Laik Hygiene dan Sanitasi. Selain itu, setiap dapur diwajibkan mempekerjakan minimal dua juru masak terlatih untuk menjamin penerapan standar operasional dan keamanan pangan, termasuk penerapan HACCP.
“Kami juga instruksikan agar setiap dapur melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala, agar keamanan makanan tetap terjaga,” kata Defri.
“Nanti ada pengecekan oleh BPOM dan BGN. Dapur harus dapat sertifikat hygenis baru bisa beroprasi kembali,” tambah dia.
Defri berharap kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Ia menegaskan bahwa tujuan utama program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah mulia, yakni meningkatkan status gizi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Dampaknya sangat luas. Karena itu, kejadian ini cukup terjadi sekali saja, dan kami pastikan seluruh dapur SPPG di Batam akan terus dalam pengawasan ketat,” tegasnya.
Berdasarkan data per 20 September 2025, penerima manfaat program SPPG tersebar di berbagai jenjang pendidikan, antara lain: PAUD 73 lembaga, SD 156 sekola, SMP 91 sekolah, SMA/SMK 55 sekolah, SLB 1 sekolah, RA/TK 11 lembaga, MTs 12 sekolah, dan MA 5 sekolah
Program ini juga menyasar kelompok ibu hamil, menyusui, serta balita di lingkungan masyarakat.*
Penulis : Engesti









