PLTS Terapung Jatigede Segera Dimulai, Jatiluhur Masih Dikaji

Ilustrasi panel surya berteknologi SHJ dan Tandem PV yang sedang dikembangkan BRIN.
Warga membersihkan panel surya PLTS Terpadu di Pulau Lebengki Kecil, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Kamis (28/5/2026). ANTARA FOTO/Jojon

PJT II mengidentifikasi potensi PLTS terapung 2,8 GWp. Lima waduk lain mulai dijajaki pada 2027.

PURWAKARTA (gokepri) – Proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 100 megawatt (MW) di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, segera dimulai. Sementara itu, proyek berkapasitas 80 MW di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, masih menunggu hasil studi kelayakan.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta II (PJT II) Imam Santoso mengatakan kedua proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan energi terbarukan melalui pemanfaatan kawasan waduk yang dikelola perusahaan. Namun, ia belum merinci jadwal pembangunan maupun target pengoperasian kedua pembangkit tersebut.

“Yang Jatigede yang 100 megawatt sudah akan mulai,” kata Imam seusai kegiatan bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) di Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu 24 Oktober 2026.

Baca Juga: TBS Energi Selesaikan Pembiayaan PLTS Terapung Tembesi Batam

Untuk Jatiluhur, perusahaan masih mengkaji kelayakan proyek sebelum melangkah ke tahap berikutnya. “Yang Jatiluhur ini masih dalam taraf FS, feasibility study,” ujar Imam.

Di luar dua proyek tersebut, PJT II mengidentifikasi potensi pengembangan PLTS terapung hingga 2,8 gigawatt peak (GWp) di sejumlah waduk dalam wilayah kerjanya. Angka tersebut merupakan potensi pengembangan keseluruhan, bukan kapasitas pembangkit yang sudah terpasang atau beroperasi.

“Daya 2,8 GWp itu adalah potensi. Jangan salah pengertian, itu potensi ya,” kata Imam.

Dalam paparan perusahaan, lima waduk lain akan mulai dijajaki untuk pengembangan PLTS terapung pada 2027. Kelimanya adalah Batutegi, Sindangheula, Karian, Cipanas, dan Kuningan.

Dengan tambahan lima lokasi tersebut, PJT II mencakup tujuh lokasi dalam rencana dan identifikasi potensi PLTS terapung, yakni Jatigede, Jatiluhur, Batutegi, Sindangheula, Karian, Cipanas, dan Kuningan. Ketujuh lokasi itu berada pada tahapan persiapan yang berbeda, mulai dari proyek yang segera dimulai hingga lokasi yang masih akan dijajaki.

Ads bp batam 2026 baru

Selain tenaga surya, PJT II mengidentifikasi potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan sistem penyimpanan energi melalui pemompaan air atau pumped storage sebesar 760 MW. Sistem ini memanfaatkan energi untuk memompa air ke tempat yang lebih tinggi, kemudian mengalirkannya kembali melalui turbin untuk menghasilkan listrik saat dibutuhkan.

Saat ini, PJT II mengelola PLTA Ir H Djuanda di kawasan Waduk Jatiluhur dengan kapasitas terpasang 187,5 MW. Listrik dari pembangkit tersebut disalurkan kepada PT PLN dan sejumlah industri.

Pengembangan PLTS terapung menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pemanfaatan infrastruktur sumber daya air untuk menghasilkan energi terbarukan. Pemanfaatan ruang genangan waduk untuk pembangkit tersebut memiliki landasan regulasi melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 7 Tahun 2023 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 27/PRT/M/2015 tentang Bendungan.

Pada 25 Agustus 2026, pemerintah meluncurkan program pengembangan PLTS berkapasitas 100 GWp sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional. ANTARA

Baca Juga: BP Batam-Batam Sarana Surya Perkuat Kerja Sama PLTS Terapung di Duriangkang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait