BATAM (gokepri.com) – Pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa 30 kilogram beras kepada 33,2 juta penerima di seluruh Indonesia untuk periode Oktober-Desember 2026.
Penyaluran dilakukan sekaligus guna membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan menjelang akhir tahun di tengah kenaikan harga beras.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, bantuan tersebut diberikan kepada masyarakat yang masuk kelompok desil 1-4. Setiap penerima memperoleh 10 kilogram beras per bulan selama tiga bulan.
“Untuk tiga bulan ini diberikan 30 kilogram, masing-masing 10 kilogram per bulan, tetapi disalurkan sekaligus untuk penerima yang berada di desil 1-4,” kata Zulkifli saat menyalurkan bantuan kepada 248 penerima di Kelurahan Baloi Permai, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu.
Ia mengatakan, penyaluran bantuan pangan periode Juli-September 2026 telah diselesaikan pemerintah. Program kemudian dilanjutkan untuk periode Oktober-Desember dengan sasaran penerima yang sama secara nasional.
Menurut Zulkifli, penyaluran bantuan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah menjaga daya beli masyarakat, terutama menghadapi potensi kenaikan harga pangan pada akhir tahun.
“Seperti kita tahu akhir tahun kan musim kemarau dan harga beras mengalami sedikit kenaikan, maka dari itu pemerintah persiapkan bantuan beras,” ujarnya.
Di luar bantuan langsung, pemerintah juga menyiapkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk masyarakat yang tidak masuk kelompok penerima bantuan.
Di Kepulauan Riau, beras SPHP dijual Rp13.100 per kilogram atau Rp65.500 untuk kemasan lima kilogram, sesuai harga eceran tertinggi (HET).
“Jadi untuk masyarakat mampu dan tidak masuk dalam kelompok sasaran bantuan langsung, yakni desil 1-4, dapat membeli beras SPHP dengan harga yang disubsidi oleh pemerintah,” katanya.
Zulkifli juga meminta masyarakat yang masuk kelompok desil 1-4 tetapi belum menerima bantuan agar mendatangi kantor Bulog untuk mendapatkan penanganan.
Selain menjaga ketersediaan beras konsumsi, pemerintah juga berupaya mengoptimalkan stok Bulog yang telah disimpan lebih dari satu tahun dan mengalami perubahan warna sehingga tidak lagi layak dijual sebagai beras konsumsi.
Menurut dia, stok tersebut masih dapat dimanfaatkan dengan mengolahnya menjadi tepung beras sebagai bahan baku bihun, kue, dan produk pangan lainnya. Harga tepung tersebut diperkirakan sekitar Rp11.000 per kilogram.
Pemerintah juga menyiapkan stok jagung sekitar 100 ribu hingga 150 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak, khususnya peternak ayam.
Jagung tersebut akan dilelang dengan harga Rp5.500 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar yang berada pada kisaran Rp7.000-Rp7.500 per kilogram.
“Langkah ini agar harga pangan tidak terlalu tinggi. Jadi kami lelang stok jagung untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam,” ujarnya.
Salah seorang penerima bantuan, Yosina, mengatakan bantuan beras tersebut membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangganya.
“Ini sangat membantu. Kemarin kami mengecek desil melalui kelurahan. Sebelumnya juga menerima bantuan beras pada periode Juli-September 2026,” katanya.
Penulis: Engesti






