Kuda-Kuda Pemerintah Lobi Tesla

Tesla Masuk Indonesia
Bos Tesla, Elon Musk. (Foto: The New York Times)

Jakarta (gokepri.com) – Tesla, produsen mobil listrik milik taipan Elon Musk, tengah dijajaki untuk berinvestasi di Indonesia. Tesla mengontak Menteri Luhut Panjaitan, pemerintah berencana menghadirkan pabrik pengolahan nikel jadi baterai listrik di Tanah Air.

Indonesia ingin mengembangkan rantai pasokan dari hulu ke hilir nikel di dalam negeri, terutama untuk mengekstraksi bahan kimia baterai, membuat baterai, dan pada akhirnya membuat kendaraan listrik. Langkah itu dukung dengan menghentikan ekspor bijih nikel yang belum diolah untuk mendukung investasi di industri dalam negeri.

Pelaksana tugas Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Ayodhia Kalake, menyebut Tesla telah menghubungi pemerintah secara informal tentang kemungkinan investasi di Indonesia, tetapi dia tidak merinci apa yang dibahas dalam perbincangan itu.

HBRL

“Khusus untuk Tesla, secara informal sudah menghubungi Pak Menko Luhut (Panjaitan). Tetapi ini masih penjajakan awal dan belum terlalu detail,” ujar Ayodhia dilansir Reuters, Senin (5/10/2020).

Dia seraya menambahkan Indonesia sudah memiliki sejumlah insentif untuk investasi kendaraan listrik. Pemerintah terus berupaya mempercepat agar lebih banyak kendaraan bertenaga listrik mengaspal di Indonesia.

Sejumlah langkah dilakukan antara lain mulai mengharuskan kendaraan dinas bertenaga listrik hingga menjajaki peluang investasi Tesla di Indonesia.

Ayodhia menjelaskan percepatan ini dilaksanakan melalui berbagai tahapan. Pemerintah memperkuat komitmen terus mengembangkan ekosistem kendaraan bermotor listrik beserta infrastruktur pendukungnya.

“Pemerintah sangat berkomitmen kuat untuk terus mengembangkan kendaraan listrik berbasis baterai. Pemerintah berharap ini menjadi pilihan utama, tetapi memang harus bertahap, dengan terus memberikan dukungan penuh,” ujarnya dilansir Bisnis.com.

Bentuk dukungan yang diberikan, menurut Ayodhia, antara lain dengan memberikan insentif khusus kepada pabrikan atau industri yang mengembangkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), dan terus mendorong pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

“Sudah ada investor asing yang membangun industrinya skala besarnya di Indonesia, kami pun, setahap demi setahap akan mengganti kendaraan dinas menjadi kendaraan listrik berbasis baterai. Beberapa Pemerintah Daerah juga memberikan insentif untuk KBLBB seperti DKI, Bali, Jawa Barat. Seperti Pemprov DKI, yang tidak mengenakan/membebaskan biaya bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) untuk KBLBB,” jelasnya.

Adapun, mulai 1 Oktober 2020, Bank Indonesia (BI) membebaskan uang muka untuk kendaraan yang bewawasan lingkungan, yaitu KBLBB. Menurut BI, kebijakan ini dikeluarkan untuk menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian.

Pemerintah juga akan memasukkan kendaraan listrik berbasis baterai ke dalam e-catalogue. Selain juga dengan adanya perusahaan transportasi online dan perusahaan taksi nasional yang menggunakan KBLBB sebagai bagian dari armadanya.

Baca Juga:

Terkait kendaraan listrik berbasis baterai yang direncanakan menjadi kendaraan dinas Kementerian/Lembaga/BUMN/D, maka diperlukan Surat Edaran dari instansi terkait, dan ditargetkan mulai 2021 hingga 2024 sudah terwujud. Sementara, kendaraan listrik berbasis baterai roda dua produksi dalam negeri sudah masuk ke dalam e–catalogue inovasi.

Selain produsen otomotif besar asal Korea Selatan, Hyundai yang berinvestasi kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia. Pemerintah melalui Menko Marves Luhut B. Panjaitan juga terus berkomunikasi dengan pabrikan otomotif besar asal Jerman dan juga Tesla.

Pabrik Baterai Lithium

Dalam perkembangan lain, Indonesia bulan lalu telah mendapatkan kesepakatan untuk membangun pabrik baterai lithium dengan LG Chem Ltd Korea Selatan dan China Contemporary Amperex Technology Ltd (CATL).

Dilansir Reuters, Tesla ingin meningkatkan produksi truk dan proyek tenaga surya dan Elon Musk awal tahun ini mendesak penambang untuk memproduksi lebih banyak nikel dan menawarkan kontrak “raksasa”, jangka panjang jika ditambang “secara efisien dan dengan cara yang peka terhadap lingkungan”.

Sedangkan proyek peleburan nikel Indonesia yang sedang dibangun oleh Grup Tsingshan China dan mitranya untuk memproduksi bahan kimia kelas baterai menarik permintaan untuk membuang limbah di laut. (Can)

Editor: Candra Gunawan
Sumber: Reuters, Bisnis.com

Pos terkait