Investasi Pusat Data di Batam Diminta Serap Lebih Banyak Tenaga Lokal

Anggota Komisi VI DPR RI Rahmat Saleh dalam rapat kerja bersama mitra BUMN dan Pemprov Kepri di Tanjungpinang.
Suasana rapat kerja Komisi VI DPR RI bersama mitra BUMN dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat (9/10/2026). ANTARA/Ogen

Investasi AI dan pusat data membutuhkan infrastruktur besar. DPR meminta manfaat ekonomi dan lapangan kerja lebih banyak dirasakan warga Kepri.

TANJUNGPINANG (gokepri) — Besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) dan pusat data di Batam belum tentu sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Anggota Komisi VI DPR RI Rahmat Saleh meminta pemerintah memastikan investasi teknologi tersebut memberi manfaat lebih besar bagi tenaga kerja lokal.

Rahmat menyampaikan hal itu dalam rapat kerja Komisi VI DPR bersama mitra BUMN dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang, Jumat (9/10/2026). Menurut dia, karakter industri AI dan pusat data yang mengandalkan teknologi tinggi membuat kebutuhan tenaga kerja relatif terbatas.

Baca Juga: Pusat Data Batam Tumbuh 89 Persen Jadi 82 MW, Jauh di Bawah Jakarta dan Johor

“Investasi AI ini minim penyerapan tenaga kerja karena sifatnya menggunakan teknologi tinggi,” kata Rahmat.

Batam semakin diminati perusahaan teknologi untuk mengembangkan infrastruktur AI dan pusat data. Persoalannya, kebutuhan pekerja dapat tinggi ketika fasilitas dibangun, tetapi berkurang setelah pusat data mulai beroperasi.

Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu memperhitungkan manfaat investasi dalam jangka panjang. Rahmat meminta pemerintah pusat dan daerah memiliki posisi tawar yang kuat ketika bernegosiasi dengan investor agar investasi juga membuka kesempatan kerja dan meningkatkan kemampuan tenaga kerja Indonesia.

“Jangan sampai Batam cuma jadi gudang data AI, sementara anak-anak mudanya tidak diberdayakan di perusahaan tersebut,” ujarnya.

Selain tenaga kerja, Rahmat menyoroti kebutuhan infrastruktur yang muncul seiring berkembangnya pusat data. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan listrik dan air yang memadai sehingga pertumbuhan investasi perlu diikuti kesiapan infrastruktur daerah.

Ia mendorong investor ikut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur, terutama penyediaan energi dan air bersih. Keterlibatan tersebut dinilai dapat membantu pemerintah daerah mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan melalui APBD dan APBN.

Ads bp batam 2026 baru

Rahmat mencontohkan Singapura yang melibatkan investasi swasta dalam pengembangan infrastruktur perkotaan. “Harapan kita, investor yang masuk tidak hanya mengambil keuntungan, tapi juga memberikan keuntungan bagi Kepri,” katanya.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan pusat data di Batam adalah DayOne. Pada April 2026, perusahaan tersebut menjalin kerja sama dengan PLN Batam untuk mendukung kebutuhan listrik fasilitas pusat data di kawasan Kabil.

Kerja sama itu mencakup penyediaan tenaga listrik berkapasitas 511 megavolt ampere (MVA) atau setara sekitar 450 megawatt (MW). BP Batam menyebut pasokan tersebut akan direalisasikan secara bertahap sepanjang 2026–2027.

Rahmat tetap mendukung pengembangan investasi di Batam sebagai kawasan strategis dan salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Namun, ia menilai besarnya investasi teknologi perlu diikuti manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat Kepulauan Riau. ANTARA

Baca Juga: Investasi Pusat Data Batam Ditaksir Sentuh Rp500 Triliun hingga 2028

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait