Guru di SMAN 23 Batam Inginkan Perubahan

SMAN 23 Batam
Foto: SMAN 23 Batam

Batam (gokepri.com) – Para guru di SMAN 23 Batam menghendaki perubahan. Salah satunya pasangan suami istri yang duduk di jabatan strategis di sekolah tersebut dimutasi untuk menghindari nepotisme.

Hal itu diungkap oleh salah satu guru SMAN 23 kepada gokepri.com, Senin 12 Februari 2024. Nama guru tersebut dirahasiakan dengan faktor keamanan. Guru tersebut menyebut, pasangan suami istri yang menjabat posisi strategis itu mengganggu jalannya administrasi sekolah.

“Kami ingin perubahan. Suami istri diganti. Tidak menduduki posisi di jabatan strategis di sekolah kami lagi. Salah satu dari mereka keluar dari SMAN 23,” ujarnya.

Baca Juga: Nepotisme dan Tabrak Aturan di SMAN 23 Batam, Guru Honorer Menjerit

Ia menyebutkan, secara etika tidak cocok rasanya jika suami istri menduduki posisi strategis di satu pemerintahan. Ia juga menuding kepala sekolah juga turut terlibat dalam itikad buruk suami istri tersebut.

“Percuma kalau rapat tidak didengar. Sekarang suami istri tak masuk sekolah. Sering terjadi bukan karena sekarang aja karena berita heboh. Sangat sering sekali dan selalu di back-up sama Kepsek,” kata dia.

Keberadaan pasangan suami istri yang berprofesi sebagai guru ini menuai protes dari beberapa guru di SMAN 23 Batam.

Kata dia, bendahara Komite adalah guru honor bernama Silvia Wulandari yang menjabat dari awal sekolah berdiri tahun 2018 sampai sekarang.

Sementara Bendahara BOS adalah suami  Silvia Wulandari yaitu Muhammad Yunus dari 2018 hingga saat ini.

“Belum ada reshuffle. Sudah hampir 6 tahun menjabat . Muhammad Yunus suami Silvia Wulandari dari awal tahun 2022 sampai sekarang menjabat wakil kepala sarana prasarana,” kata dia.

Sementara itu Kepala Sekolah SMAN 23 Batam, Sarimin Adang, membantah adanya nepotisme dan potongan gaji guru di sekolahnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemberitaan soal pasangan suami istri yang menduduki jabatan strategis di sekolah itu tidaklah benar.

Sarimin menjelaskan bendahara BOS dijabat oleh seorang perempuan, bukan pasangan suami istri. Bendahara komite pun berasal dari unsur orang tua murid, bukan guru.

“Informasi yang beredar tidaklah benar,” tegasnya, Jumat (9/2/2024).

Ia pun membantah adanya nepotisme di SMAN 23 Batam. Menurutnya, semua guru diperlakukan sama dan tidak ada laporan keluhan guru ke dinas pendidikan dan legislatif Kepulauan Riau.

“Keputusan di sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah, bukan pihak lain,” ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

BAGIKAN