DSX AI Factory Masuk Batam, Benarkah Teknologi Nvidia Bisa Menghemat Air?

Pabrik cip galang batam
Cip buatan Nvidia. Foto: Bloomberg

NVIDIA menggunakan pendinginan cair bersirkulasi tertutup atau closed-loop cooling. Teknologi ini berpotensi menekan kebutuhan air pusat data AI.

BATAM (gokepri) – Pusat data AI Nvidia DSX di Batam akan memiliki kapasitas 360 MW dan menggunakan hingga 170.000 cip GPU. Kekhawatiran soal kebutuhan air muncul karena pusat data membutuhkan sistem pendingin, tetapi NVIDIA menyebut teknologi terbarunya dapat memangkas konsumsi air hingga mendekati nol.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari NVIDIA DSX AI Factory reference design, rancangan yang memuat standar untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur pusat data AI. NVIDIA memperkenalkan sistem pendingin cair yang memungkinkan perangkat beroperasi dengan cairan pendingin hingga suhu 45 derajat Celsius.

Baca Juga: Airlangga: Nvidia Siap Investasi Rp80 Triliun di Batam

Dalam rancangan itu, seluruh komponen utama sistem komputasi didinginkan dengan cairan. NVIDIA menyebut generasi Rubin sebagai infrastruktur AI pertama mereka yang menggunakan pendinginan cair 100 persen, tanpa kipas di dalam sistem.

Cairan pendingin mengalir dalam sistem tertutup sehingga panas dari chip dapat dipindahkan langsung ke luar sistem. Karena cairan terus bersirkulasi, sistem tidak perlu terus-menerus memasukkan air baru untuk mendinginkan chip.

Ali Heydari, Director of Data Center Cooling and Infrastructure NVIDIA, mengatakan desain DSX berbasis dry cooler dapat menghilangkan sebagian besar kebutuhan air untuk pendinginan. “Kami menghilangkan penggunaan air dalam jumlah besar dan hampir seluruh penggunaan air,” kata Heydari, 22 Juni 2026, dikutip dari situs Nvidia.com.

Dry cooler bekerja seperti radiator mobil berukuran besar yang berada di luar bangunan. Panas dari chip dipindahkan melalui cairan ke unit tersebut, kemudian dilepaskan ke udara luar tanpa proses penguapan air seperti pada menara pendingin konvensional.

Perbedaan itu penting karena sistem pendinginan tradisional bergantung pada udara dingin dan peralatan mekanis untuk membuang panas dari perangkat komputasi. Ketika suhu lingkungan meningkat, kebutuhan energi dan air untuk menjaga suhu peralatan tetap stabil juga dapat meningkat.

NVIDIA menyebut pendinginan dapat menyerap hingga 40 persen konsumsi listrik sebuah pusat data. Karena itu, menaikkan suhu cairan pendingin hingga 45 derajat Celsius memungkinkan sistem membuang panas dengan lebih efisien tanpa selalu mengandalkan chiller.

Ads bp batam 2026 baru

NVIDIA memperkirakan kenaikan suhu operasi chiller satu derajat Celsius dapat memangkas energi pendinginan sekitar 4 persen. Pada pusat data hyperscale berkapasitas 50 MW, perusahaan itu memperkirakan perpindahan ke pendinginan cair dapat menghemat lebih dari 4 juta dollar AS per tahun dari biaya energi dan air untuk pendinginan.

Dalam kondisi iklim yang mendukung, NVIDIA menyebut sistem pendingin cair 45 derajat Celsius dapat bekerja tanpa chiller. Konsumsi air untuk pendinginan fasilitas yang menggunakan menara pendingin konvensional, menurut perusahaan itu, dapat mencapai sekitar 2,6 juta galon atau hampir 9,8 juta liter per MW setiap tahun.

Jika angka tersebut digunakan sebagai ilustrasi untuk fasilitas berkapasitas 360 MW, kebutuhan airnya setara sekitar 936 juta galon atau 3,5 miliar liter per tahun. Namun, angka itu bukan proyeksi konsumsi air Nvidia DSX di Batam karena kebutuhan aktual bergantung pada desain fasilitas, sistem pendinginan, kondisi iklim, dan pola operasi.

Justru pada titik itu teknologi NVIDIA menjadi relevan bagi rencana pusat data AI di Batam. NVIDIA menyatakan desain DSX berbasis dry cooler dapat membawa konsumsi air untuk pendinginan mendekati nol karena panas dibuang melalui sistem tertutup tanpa penguapan.

Meski demikian, klaim tersebut berlaku untuk rancangan teknologi DSX dan bukan pernyataan bahwa fasilitas Nvidia DSX di Batam pasti tidak menggunakan air. Kebutuhan air proyek Batam tetap perlu dilihat dari desain fasilitas yang akan dibangun Firmus Technologies bersama NVIDIA dan DayOne.

Sistem pendingin generasi baru juga mengubah cara panas dikelola di dalam pusat data. Cairan yang terdiri atas 75 persen air dan 25 persen propylene glycol mengalir melalui cold plate yang menempel langsung pada prosesor untuk mengambil panas dari sumbernya.

Cairan dapat masuk ke sistem pada suhu hingga 45 derajat Celsius dan keluar sekitar 55 derajat Celsius setelah menyerap panas dari chip. Menurut NVIDIA, suhu tersebut tetap berada dalam batas operasi yang memungkinkan prosesor bekerja pada performa penuh.

Pendekatan ini berbeda dari pusat data konvensional yang mengandalkan aliran udara dalam jumlah besar. Pusat data dengan pendinginan udara membutuhkan pengaturan lorong udara dingin dan panas, sementara kipas ikut menyumbang tingkat kebisingan yang tinggi.

Pada desain Rubin, komponen yang sebelumnya membutuhkan pendinginan udara juga mendapat rancangan pendinginan cair. NVIDIA mengubah jalur pendinginan sehingga beberapa chip berdaya tinggi dapat menerima dan mengeluarkan cairan melalui satu sistem pada tingkat tray.

Perubahan itu membuat server dapat memiliki panel depan tertutup, berbeda dari server berpendingin udara yang membutuhkan bukaan untuk mengalirkan udara. Sistem tersebut juga memungkinkan kepadatan rak lebih tinggi karena perangkat membutuhkan ruang lebih kecil untuk infrastruktur pendinginan.

NVIDIA menyebut sistem yang sebelumnya membutuhkan enam unit ruang rak dapat ditempatkan dalam dua unit ruang rak. Dengan demikian, peningkatan kapasitas komputasi tidak selalu harus diikuti peningkatan ruang fisik untuk perangkat pendingin.

Teknologi tersebut juga membuka peluang pemanfaatan kembali panas buangan. Panas dari operasi pusat data dapat dialirkan ke fasilitas komersial atau bangunan di sekitar pusat data untuk kebutuhan pemanasan, meski penerapannya tetap bergantung pada lokasi dan rancangan fasilitas.

Richard Whitmore, President and CEO Motivair, divisi pendinginan Schneider Electric, mengatakan kebutuhan pendinginan cair meningkat seiring kepadatan daya chip. “Ketika daya per chip melewati tingkat tertentu, pendinginan cair menjadi wajib,” katanya.

Namun, kemampuan sistem membuang panas tanpa air sangat bergantung pada kondisi geografis. NVIDIA mengakui pusat data di wilayah dingin seperti dataran tinggi Skotlandia memiliki kondisi berbeda dibandingkan pusat data di wilayah panas seperti Phoenix, Arizona.

Pada iklim yang lebih hangat, penggunaan cairan dengan suhu hingga 45 derajat Celsius tetap dapat mengurangi kebutuhan chiller. NVIDIA menyebut chiller dalam sistem tertentu mungkin hanya perlu aktif pada sebagian kecil waktu, terutama ketika suhu udara luar tidak lagi cukup untuk membuang panas.

Pemaparan Nvidia menjadi penting bagi Batam yang tengah bersiap menerima rencana Nvidia DSX AI Factory berkapasitas 360 MW. Investasi yang disebut mencapai Rp80 triliun atau sekitar 4,5 miliar dollar AS itu akan menggunakan sekitar 170.000 chip atau GPU NVIDIA.

Besarnya kapasitas komputasi membuat persoalan energi dan pendinginan menjadi bagian penting dari infrastruktur pusat data tersebut. Di sisi lain, teknologi pendinginan yang dipilih akan menentukan seberapa besar kebutuhan energi dan air untuk menjaga ribuan perangkat komputasi tetap beroperasi.

NVIDIA menyatakan kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan terus meningkat sehingga pembangunan pusat data juga bertambah. Karena itu, efisiensi pendinginan menjadi salah satu bagian penting dari upaya mengendalikan kebutuhan energi dan air ketika infrastruktur AI dibangun dalam skala besar.

Baca Juga: Seperti Apa Pusat Data AI Firmus-Nvidia di Batam?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait