Batam (gokepri.com) – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di wilayah Sumatera, Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau berperan aktif dengan melibatkan 112 UMKM unggulan dalam Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Sumatera 2024 yang berlangsung di Batam dari tanggal 27 Mei hingga 2 Juni 2024.
Kepala BI Kepri, Suryono menjelaskan keterlibatan 112 UMKM tersebut adalah hasil pembinaan dari 13 kantor perwakilan BI di regional Sumatera.
“Kami melibatkan UMKM binaan dari seluruh perwakilan BI di Sumatera untuk memperkuat ekonomi syariah di daerah ini,” ujar Suryono, Senin, 27 Mei 2024.
Baca Juga: Tablig Akbar Awali Rangkaian FESyar Sumatera 2024 di Batam
Kegiatan Fesyar Sumatera 2024 ini bertema, “Sinergi untuk Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Syariah Sumatera”. Suryono mengatakan, tema tersebut mencerminkan semangat kolaborasi antara BI dan pemerintah pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS).
Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi syariah, yang saat ini semakin berkembang di Sumatera.
“Kerja sama ini sangat penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi syariah di Kepri berjalan dengan baik,” tegasnya.
Sebelumnya, telah diadakan Road To Fesyar 2024 oleh 13 kantor perwakilan BI di Sumatera, yang mencakup berbagai kegiatan seperti kurasi UMKM, peningkatan kapasitas UMKM, pertemuan bisnis, layanan sertifikasi halal, serta berbagai lomba.
Selama Road To Fesyar, kegiatan syariah fair dan pameran UMKM mencatat penjualan sebesar Rp6,5 miliar. Selain itu, ada komitmen dan realisasi pertemuan bisnis senilai Rp3,65 miliar, serta edukasi yang melibatkan lebih dari 50 ribu peserta.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad mengapresiasi langkah BI Kepri dalam merangsang perkembangan ekonomi syariah di daerah melalui kegiatan Fesyar ini.
“Terima kasih kepada BI, karena acara Fesyar Regional Sumatera dilaksanakan di sini. Rangkaian acaranya kan banyak, mulai dari tadi malam dan berbagai pertandingan,” kata Ansar usai meninjau bazar UMKM Fesyar.
Ansar juga menyampaikan di pameran tersebut, ia melihat produk UMKM dari binaan setiap wilayah perwakilan BI, termasuk di Kepri. Pembinaan yang dilakukan bisa meningkatkan kreativitas serta inovasi masyarakat dalam berbagai sektor ekonomi.
“Biasanya BI kan kerjanya terukur. Itu kan bagus untuk membangun semangat inovasi masyarakat kita untuk terus berkreasi, berkreativitas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ansar berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan BI ini dapat terus dikembangkan. Kegiatan Fesyar ini juga diharapkan dapat memberikan dorongan bagi perkembangan ekonomi syariah di Kepri.
“Mudah-mudahan kalau kolaborasi ini terus kita kembangkan dalam segala yang lebih besar termasuk juga jaringan pasarnya, saya kira itu bagus sekali,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni P. Joewono, juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi ini tidak hanya melibatkan Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan instansi terkait, tetapi juga masyarakat luas.
Doni mengungkapkan data dari State of the Global Islamic Economy (SGIE), Indonesia berada di peringkat ketiga dalam indikator ekonomi syariah global.
“Perputaran produk halal mencapai 1,4 triliun USD, dan Indonesia menempati posisi kedua tren konsumsi produk industri halal,” ujarnya.
Namun, Doni juga mengidentifikasi tiga tantangan utama yang dihadapi Indonesia dalam konteks ekonomi syariah global. Tantangan pertama adalah Indonesia masih menjadi pasar global untuk produk halal, dengan nilai impor produk halal yang lebih besar dari pada nilai ekspor.
“Uniknya, ekspor produk halal justru dilakukan oleh negara-negara seperti India, Amerika Serikat, dan Korea,” tambahnya.
Tantangan kedua adalah ketergantungan pada keuangan syariah yang masih terbatas pada perbankan syariah. Doni menekankan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan syariah agar perbankan syariah dapat berfungsi optimal.
“Kalau bank syariah tidak ada penumpangnya, penumpangnya tidak siap, tidak bisa jalan. Oleh karena itu, saya menghargai sekali pak gubernur ada koperasi pondok pesantren yang bisa mendorong ekonomi syariah akan tumbuh,” katanya.
Tantangan ketiga adalah penguatan ekosistem produk halal di Indonesia. Doni menyoroti pentingnya pengamatan dan penguatan ekosistem ini, serta mengapresiasi adanya ekosistem produk halal di Bintan.
“Bintan Inti Halal Food adalah contoh baik bagaimana asuransi dapat mendukung peternakan, perkebunan, dan logistik dalam sistem ekonomi produk halal. Ini bisa menjadi benchmark bagi daerah lain,” tuturnya.
Doni juga optimis bahwa dengan kolaborasi yang kuat dan langkah-langkah strategis, Indonesia dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan mengembangkan ekonomi syariah yang lebih baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Muhammad Ravi








