BATAM (gokepri.com) – Bentrokan dua kelompok terjadi di Pulau Setokok, Jembatan 3 Barelang, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (14/9/2026), akibat konflik lahan yang telah berlangsung cukup lama.
Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengatakan, persoalan tersebut bermula dari konflik lahan antara pihak-pihak yang berselisih.
“Ini diawali konflik masalah lahan, yang cukup berjalan sudah lama,” kata Anggoro.
Dia menjelaskan, bentrokan melibatkan warga yang sebelumnya menggarap lahan dengan kelompok yang mewakili perusahaan yang memiliki pekerjaan untuk memagar dan membersihkan lahan tersebut.
Warga yang menggarap lahan disebut belum menerima kompensasi. Perselisihan kemudian berkembang hingga terjadi bentrokan antara kedua kelompok.
Dalam bentrokan tersebut, kedua kelompok diduga membawa senjata. Polisi masih mendalami rangkaian kejadian serta pihak-pihak yang terlibat.
Anggoro mengatakan, kepolisian sebelumnya telah melakukan sejumlah upaya untuk mencegah konflik tersebut meluas, termasuk memediasi pihak-pihak yang berselisih.
Namun, upaya mediasi tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan hingga akhirnya terjadi bentrokan yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
“Sudah ada yang diamankan,” ujarnya.
Anggoro menyebutm polisi telah mengamankan enam orang yang diduga terlibat dalam bentrokan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kepolisian masih mendalami peran masing-masing orang yang diamankan, termasuk rangkaian kejadian hingga bentrokan terjadi.
Terkait penggunaan senjata, Anggoro menyebut dugaan awal mengarah pada penggunaan senjata angin, bukan senjata api.
“Untuk senjata, dugaan awal adanya penggunaan senjata angin, bukan senjata api. Itu adalah dugaan awal. Untuk proses visum masih berjalan,” jelasnya.
Anggoro menegaskan, bentrokan tersebut merupakan persoalan konflik lahan dan tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, maupun antargolongan (SARA).
“Kami pastikan bahwa ini masalah konflik lahan, bukan SARA, suku, ras, agama dan lain sebagainya. Kami berharap masyarakat bijaksana dalam menyikapi masalah ini,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Kami imbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, terhasut atas berita-berita yang belum tahu kebenarannya,” katanya.
Setelah bentrokan terjadi, kepolisian melakukan pengamanan dan pendalaman di lokasi untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan.
“Percayakan kepada kami. Kami akan terus mendalami serta akan menegakkan hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Anggoro.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Nona Pricillia Ohei mengatakan, berdasarkan data sementara terdapat sembilan korban dalam insiden tersebut.
Dari jumlah tersebut, dua orang meninggal dunia, sedangkan tujuh korban lainnya mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
“Dua korban yang meninggal dunia sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara,” kata Nona.
Tiga korban dirawat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, tiga korban lainnya mendapatkan perawatan di RS Awal Bros Batuaji, sedangkan satu korban menjalani perawatan di RSUD Embung Fatimah.
Di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, puluhan keluarga dan kerabat korban terlihat berkumpul. Mereka meminta kepolisian segera menangkap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam bentrokan tersebut.
“Sudah ada dua orang yang diamankan di Polresta Barelang,” kata Nona.
Nona mengatakan penyelidikan dan pengejaran terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat masih berlangsung. Jumlah orang yang diamankan juga masih dapat bertambah.
Tim Reskrim Polresta Barelang bersama Polda Kepri terus mendalami motif dan rangkaian bentrokan, termasuk mengidentifikasi seluruh pihak yang terlibat serta memastikan alat yang digunakan dalam peristiwa tersebut.
Kepolisian juga terus melakukan patroli di wilayah Batam untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Penulis: Engesti







