Benang Kusut Keberangkatan Kapal Antar Pulau di Pelabuhan KPK Karimun

Kapal Karunia Jaya 09 saat hendak sandar di Pelabuhan Sri Tanjung Gelam atau Pelabuhan KPK Karimun. (Ilfitra/gokepri.com)

Karimun (gokepri.com) – Pelabuhan Sri Tanjung Gelam atau Pelabuhan KPK yang melayani rute kapal antar pulau di Kabupaten Karimun merupakan salah satu pelabuhan terpadat di Karimun.

Bahkan, saking padatnya mobilitas kapal yang keluar masuk di Pelabuhan itu ada yang berjarak hanya sekitar 15 menit atau paling banter 30 menit.

Dengan kondisi padatnya arus keluar masuk kapal di pelabuhan ini, maka seringkali menimbulkan ‘gesekan’ jadwal keberangkatan antara satu kapal dengan kapal lainnya di pelabuhan itu.

Setidaknya, terdapat 29 unit kapal yang saban waktu lalu lalang di pelabuhan itu, setiap harinya.

Kapal yang rata-rata berjenis speedboat tersebut berada di bawah naungan 6 agen pelayaran.

Enam agen pelayaran itu diantaranya PT Karimun Satria Abadi, PT Duta Bahari Sentosa, PT Wello Bone Perkasa, PT Sinar Romindo Indah, PT Ratu Indah Permai dan PT Terra Joan Jaya.

Namun, belakangan PT Terra Joan Jaya tidak beroperasi lagi. Sehingga, saat ini hanya tinggal 5 agen pelayaran.

Aktivitas kedatangan speedboat di Pelabuhan KPK karimun. (Ilfitra/gokepri.com)

Keberangkatan kapal dari Pelabuhan KPK diawali dengan berlayarnya speedboat (SB) Satria Express 99 tujuan Selat Beliah pada pukul 06.15 WIB.

Kemudian, disusul SB Karunia Jaya 09 yang berangkat pada pukul 06.30 WIB juga tujuan ke Selat Beliah.

Artinya, antara SB Satria Express 99 dengan SB Karunia Jaya 09 hanya memiliki selisih waktu keberangkatan selama 15 menit.

Namun, disinilah benang kusut arus keberangkatan dan kedatangan kapal di Pelabuhan KPK itu sering terjadi.

Berdasarkan infomasi yang terjadi di lapangan ternyata SB Karunia Jaya 09 malah berangkat lebih cepat pada pukul 06.17 WIB.

Sementara, 13 menit berikutnya giliran SB Satria Express 99 yang akan berangkat meninggalkan ponton pelabuhan tersebut.

“Selamat pagi pak, ijin melapor. Pagi ini SB Karunia Jaya tujuan Selat Beliah masih tetap melanggar aturan. Mereka tetap berangkat tidak sesuai dengan jadwal Trayek (RPT) mereka,” ujar Robby Rusyanto, Owner PT Karimun Satria Abadi yang memiliki armada kapal SB Satria.

Kata Robby, padahal jadwal trayek (RPT) SB Karunia Jaya pukul 06.30 WIB, namun kapal tersebut berangkat pukul 06.18 WIB dan sudah terjadi selama 3 hari belakangan ini.

“Hal tersebut dapat merugikan pihak kami. Pertama, terjadinya kejar kejaran dengan menambahkan kecepatan kapal dan itu bisa meningkatkan presentase tabrakan kapal dan membahayakan keselamatan penumpang. Kedua, penumpang kami mereka lobi untuk naik mereka,” jelasnya.

Dia menyebut, apa yang dilakukan SB Karunia Jaya dapat merugikan pihaknya dan sangat membahayakan banyak orang.

“Jika sudah terjadi kecelakaan kapal, hal itu tidak bisa kita sesali lagi, karena itu perlunya tindakan cepat agar hal buruk tidak terjadi ke depannya,” pungkasnya, Jumat, 12 Januari 2024.

Sementara, Januari dari PT Wello Bone Perkasa dan PT Sinar Romindo Indah menyampaikan hal sebaliknya. Menurut dia, SB Satria yang berada di bawah naungan bendera PT Karimun Satria Abadi juga melanggar aturan.

Dia memberi contoh, SB Satria dari Pelabuhan KPK ke Moro dengan jadwal pukul 09.55 WIB malah berangkat pukul 10.02 WIB.

Kemudian, SB Satria 99 dari Pelabuhan KPK ke Selat Beliah dengan jadwal 06.15 WIB malah berangkat pukul 06.17 WIB.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Sri Tanjung Gelam di Dinas Perhubungan Karimun, Sandi Gea menjelaskan, terkait jadwal keberangkatan kapal, Dinas Perhubungan memiliki Rencana Pola Trayek (RPT).

Hanya saja, di lapangan memang banyak ditemui agen pelayaran yang melanggar aturan trayek yang telah dikeluarkan Dishub Karimun.

“Pelanggaran soal jadwal keberangkatan kapal itu memang sudah sering terjadi dilakukan oleh agen pelayaran di Pelabuhan Sri Tanjung Gelam,” ujar Sandi, Jumat, 12 Januari 2024.

Bahkan, kata Sandi, pihaknya sudah pernah memberikan peringatan kepada seluruh agen pelayaran pada 12 Desember 2023 lalu.

“Kalau memang terjadi lagi pelanggaran, maka kami tak segan-segan memberikan teguran tertulis pertama dan itu ada sanksinya,” ungkap Sandi.

Sandi menyebut, sebenarnya tidak ada toleransi bagi kapal yang melakukan keterlambatan keberangkatan atau mempercepat keberangkatan kapalnya.

Hanya saja, dirinya menyebut ada dua pengecualian jika benar-benar harus dilakukan penundaan atau mempercepat keberangkatan kapal yakni ada pasien sakit yang harus diantar dan ada ada keberangkatan pejabat.

“Itupun nakhoda atau pihak agen harus melaporkan dulu kepada regulator di pelabuhan,” ungkapnya.

Penulis: Ilfitra

BAGIKAN