Batam Pilot Project Jargas, Kota Tanpa Subsidi Elpiji 3 Kg

Jaringan gas bumi di Bintaro
Foto: PGN

BATAM (gokepri) – Batam dipilih sebagai proyek percontohan kota tanpa subsidi elpiji 3 kilogram. Langkah ini juga memperluas penggunaan jaringan gas (jargas) bumi dalam lima tahun ke depan sekaligus mengurangi beban subsidi.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN menjadikan Batam sebagai kota tanpa elpiji 3 kilogram dan proyek percontohan untuk penggunaan jaringan gas (jargas) dalam lima tahun ke depan.

Head Area PGN Batam, Wendi Purwanto, mengatakan Batam dipilih karena struktur geografisnya yang berupa pulau, sehingga lebih mudah dalam pengawasan distribusi energi.

HBRL

“Batam ini kotanya pulau, jadi lebih mudah mengatur keluar masuknya LPG 3 kilogram dibandingkan kota lain seperti Medan yang aksesnya lebih terbuka. Ini yang membuat Batam lebih mudah sebagai percontohan untuk menghilangkan subsidi 3 kilogram,” kata Wendi, pada Kamis, 13 Maret 2025.

Wendi mengatakan hingga saat ini, total jaringan pipa gas di Batam sudah mencapai 220 kilometer, terdiri dari pipa baja dan polietilena. Tahun ini, PGN menargetkan penambahan sekitar 28 kilometer jaringan pipa untuk memperluas cakupan distribusi gas. PGN juga memperluas jaringan gas dengan memasang 4.045 sambungan baru di beberapa perumahan.

Pemasangan ini sudah mulai berjalan dan ditargetkan rampung pada November 2025. “Berarti menambah dari jumlah sebelumnya yang sekitar 5.000, totalnya nanti untuk tahun ini menjadi 9.000-an dari target total seluruh Batam yang akan dipasang dalam 5 tahun ke depan harus selesai,” kata Wendi.

Menurutnya, dari segi biaya, penggunaan jargas dinilai lebih hemat dibandingkan LPG. Rata-rata konsumsi rumah tangga di Batam berkisar antara 4-6 meter kubik per bulan, dengan biaya sekitar Rp40.000-Rp60.000.

“Biayanya hampir sama dengan LPG 3 kilogram, tapi dengan jargas, kita tidak perlu khawatir kelangkaan atau antrean. Selain itu, harga gas bumi jauh lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi ukuran 5,5 atau 12 kilogram,” jelas Wendi.

Dari sisi keamanan, jargas juga dinilai lebih aman karena lebih ringan dari udara dan memiliki bau khas yang memudahkan deteksi kebocoran. Apalagi jika terjadi kebocoran, gas akan menguap ke udara sehingga mengurangi risiko bahaya.

Saat ini, jaringan gas di Batam terkonsentrasi di tiga kecamatan yaitu, Batu Aji, Sagulung, dan Batam Kota. PGN berencana memperluas jaringan secara bertahap agar seluruh kecamatan di Pulau Batam dapat menikmati fasilitas ini.

Namun, untuk daerah kepulauan seperti Belakangpadang, masih ada kendala dalam pengembangan infrastruktur gas bumi. “Seluruh kecamatan yang di Batam yang pasti terutama dulu kalau yang di pulau kayak Belakang Padang kita masih kesulitan,” pungkas Wendi.

Klasterisasi di Batam dan Bintan

Diberitakan, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk (PGAS). menyebut, bakal ada uji coba pembatasan LPG 3 kg untuk meningkatkan pemanfaatan jaringan gas (jargas) rumah tangga. Uji coba ini dilakukan dengan metode klasterisasi di wilayah Batam dan Bintan.

Direktur Utama PGN, Arief S. Handoko, mengatakan, saat ini minat penggunaan jargas masih minim lantaran terdapat produk substitusi energi yang lebih murah yakni LPG 3 kg. Hal ini yang membuat program pemerintah tersebut belum dinilai ekonomis.

“Kami mau coba clustering bahwa kami akan batasi LPG 3 kg itu untuk masuk ke Batam, jadi dengan kami batasi LPG 3 kg artinya keberminatan jargas ini akan bertambah,” kata Arief dalam RDP Komisi VI DPR RI, Rabu, 12 Maret 2025.

Jargas telah tersambung lebih dari 815.000 rumah tangga dengan panjang pipa jargas mencapai 20.000 kilometer pada 2024. Untuk jargas yang dibangun PGN ditargetkan akan menambah 200.000 sambungan rumah (SR) tahun ini.

“Tadi ditanyakan mengapa panjang kilometer pipa jargas ini panjang, tapi pelanggannya sedikit? Itu terkait dengan keberminatan dari jargas itu sendiri, kita sudah mulai pasang tetapi yang gas ini itu on-off, on-off, ada yang pasang, 3 bulan kemudian berhenti,” tuturnya.

Padahal, Arief menuturkan untuk melepas sambungan jargas tersebut akan memakan biaya tambahan. Untuk itu, diperlukan mekanisme klasterisasi penggunaan jargas menggantikan LPG 3 kg.

Menurut dia, untuk melakukan klasterisasi jargas di wilayah Jawa, utamanya Jakarta, masih sulit dilakukan. Sebab, perilaku masyarakat yang masih bergantung pada gas melon tersebut.

“Jadi itulah kendala kami terkait dengan effort kita untuk memasifkan jargas, kami sudah coba clastering, makanya ini dalam percontohan itu ada di Batam dan Bintan,” imbuhnya.

Dalam roadmap PGN tahun ini, pihaknya akan mencoba untuk pasang terlebih dahulu pada satu jalan dengan kapasitas 60 rumah tanpa menanti permintaan konsumen.

“Baru nanti kami door-to-door supaya pasang jargas, ini yang tentunya hal yang masif yang harus kita lakukan untuk tujuan utamanya ya membantu pemerintah menurunkan beban subsidi LPG 3 kg yang jumlahnya kurang lebih hampir Rp100 triliun dalam setahun. Itu yang mau kami kikis sedikit-sedikit enggak bisa revolusioner,” tuturnya.

Baca Juga: Siapa Mau Bangun Jargas Rumah Tangga di Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Muhammad Ravi
Editor: Candra Gunawan

Pos terkait