Batam (gokepri.com) – Kasus baru Covid-19 di Kota Batam masih terus bertambah. Pada Sabtu (19/6/2021), tercatat 170 kasus baru positif Covid-19. Kasus baru ini terdiri dari 134 bergejala, 30 tanpa gejala, dan 6 konfirmasi kontak.
Penambahan kasus baru tersebut menjadikan total positif Covid-19 di Batam mencapai 11.745 kasus. Sebanyak 10.161 di antaranya sembuh, 246 meninggal, dan 1.338 sedang dirawat.
Dari 12 kecamatan di Kota Batam, 10 di antaranya sudah berpeta merah. Terdiri dari Kecamatan Batam Kota dengan 327 kasus aktif, Sekupang 232 kasus aktif, Batuaji 196 kasus aktif, dan Sagulung dengan 128 kasus aktif. Kemudian Kecamatan Bengkong dengan 109 kasus aktif, Lubukbaja 92 kasus aktif, Seibeduk 90 kasus aktif, Nongsa 69 kasus aktif, Batu Ampar 62 kasus aktif, dan Belakangpadang dengan 26 kasus aktif.
Sementara dua kecamatan lainnya berpeta kuning. Yakni Kecamatan Galang dengan 5 kasus aktif dan Bulang dengan 1 kasus aktif.
Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengapresiasi antusias masyarakat Batam untuk divaksin Covid-19. Ia berharap, dengan kesadaran bersama ini pula, bisa memudahkan Kota Batam menangani Covid-19.
“Kesadaran warga Batam mengikuti vaksinasi sangat luar biasa. Manfaatkan program vaksinasi gratis ini,” katanya di hadapan peserta vaksinasi Covid-19 di PT Giken Precision Indonesia, Batuampar, Jumat (18/6/2021).
Selain vaksinasi, pihaknya juga terus menekankan penerapan protokol kesehatan dalam menangani Covid-19. Untuk itu, ia mengajak masyarakat disiplin untuk memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
“Perketat protokol kesehatan. Untuk memastikan ini, kami terus menggelar razia, membentuk PPKM yang kini berjumlah 2.854. Kita sama-sama berdoa agar Batam segera mampu keluar dari wabah ini,” katanya.
Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Kartikasari Broto Asmoro menegaskan, cara jitu melawan varian virus baru dan Covid-19 secara umum adalah dengan masker yang bisa melindungi diri dan orang lain. Karena virus SARS COV 2 menular melalui droplet. Namun, lanjut dr Reisa, masker yang dipakai harus yang ampuh menangkal droplet masuk ke tubuh lewat rongga mulut, hidung, dan mata.
“Masker bedah yang sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan adalah yang paling direkomendasikan,” ujar dr Reisa.
Untuk masker kain, pastikan pakai masker kain yang terdiri dari minimal tiga lapis. Lapisan pertama adalah lapisan kain hidrofilik seperti katun, lapisan kedua biasanya katun atau polyester, dan lapisan ketiga atau bagian masker paling luar menggunakan lapisan hidrofobik atau bersifat antiair seperti terbuat dari polypropylene untuk menangkal droplet menembus masker kain.
“Ingat! Masker kain hanya dapat dipakai maksimal 4 jam, apabila basah atau lembab segera diganti. Karena itu, bawalah beberapa masker saat keluar rumah,” ujarnya.
dr Reisa mengingatkan, gunakan masker dengan tepat. Tutupi bagian hidung dan mulut sepenuhnya dan cuci tangan sebelum memakai dan melepas masker hanya sentuh bagian tali dan jangan sentuh bagian depan masker bagian tersebut sudah tidak bersih dan berisiko mengandung droplet.
Dalam kesempatan itu, dia menyebut membuka masker dapat dilakukan pada saat makan dan minum atau olahraga dengan syarat berjauhan dengan orang lain, dengan jarak yang aman minimal dua meter, dan lebih aman lagi apabila dilakukan saat sendirian saat berada di ruang terbuka.
“Jangan buka masker di ruang tertutup yang banyak orangnya. Saya jelaskan lagi bahwa virus adalah makhluk mikroorganisme yang dapat saja melayang di udara ruang tertutup atau bersifat aerosol,” katanya.
Baca juga: Tidak Pakai Masker, 40 Warga Dikenai Sanksi
Masih menurut dr Reisa, seruan untuk menjauhi kerumunan adalah seruan yang benar. Berkumpulnya banyak orang di satu tempat tanpa diketahui status kesehatan mereka memunculkan risiko tertular sangat besar. Kerumunan membuka kemungkinan kontak dan menghilangkan jarak aman, situasi seperti itu membuat mudah tertular Covid-19.
“Maka jauhi kerumunan dan kurangi mobilitas keluar rumah yang tidak mendesak,” tegas dr Reisa. (zak)









