Kemenkes Sebar Nyamuk Wolbachia di Sejumlah Daerah, Batam Belum Butuh

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Imram Pambudi. Foto: Gokepri.com/Muhammad Ravi

Batam (gokepri.com) – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyebarkan nyamuk wolbachia di beberapa wilayah di Indonesia yang dinilai efektif dalam mencegah demam berdarah (DBD).

Nyamuk ber-wolbachia merupakan nyamuk aedes aegypti yang diinfeksi dengan bakteri wolbachia. Cara kerja dari bakteri wolbachia ini adalah ketika diinfeksikan ke nyamuk aedes aegypti, maka nyamuk itu tidak menularkan DBD.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Imram Pambudi menjelaskan, nyamuk tidak bisa menularkan virus dengue, yang menyebabkan DBD.

HBRL

Baca Juga: 6 Warga Batam Meninggal Akibat DBD Sepanjang Januari-Mei 2024 

“Jadi, kerjanya seperti itu. Bakteri wolbachia ini tidak membuat mutasi dari nyamuk. Hanya membuat fungsi dari nyamuk untuk membunuh virus dengue di tubuh nyamuk,” ujar dr. Imram Pambudi, Kamis, 27 Juni 2024.

Ia mengatakan, pendekatan pencegahan DBD ini dilakukan pertama di Yogyakarta sejak tahun 2012 sampai 2021 melalui Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain Yogyakarta, juga dilakukan di Bontang, Semarang, Kupang, Bandung, terakhir di Jakarta Barat dan Bali.

“Kalau di Yogyakarta, pendekatan itu bisa menurunkan jumlah rawat inap sampai 80 persen dan kasusnya menurun sampai 75 persen,” jelasnya.

Menurutnya, Indonesia juga bukan satu-satunya yang melakukan pendekatan pencegahan DBD dengan cara ini. Seperti, Singapura, Vietnam, Brasil dan Australia.

Pencegahan dengan nyamuk ber-wolbachia ini juga membutuhkan waktu sehingga penerapannya efektif. Menurutnya, dibutuhkan sekitar dua atau tiga tahun sampai terjadi penurunan jumlah kasus DBD.

“Nyamuk ber-wolbachia itu baru bisa berefek kalau populasi nyamuk aedes aegypti yang ber-wolbhachia sudah lebih dari 60 persen. Baru akan menunjukan penurunan kasus (DBD),” katanya.

Ia juga menuturkan, Kota Batam belum memerlukan uji coba pelepasan nyamuk ber-wolbachia. Menurutnya, Batam memiliki tren positif dibandingkan dengan daerah lainnya terhadap pencegahan DBD.

Di tahun 2024 ini, jumlah kasus penularan dengue dan kematian meningkat di sejumlah daerah, namun Batam menurun sejak tahun 2022 sampai 2023.

Ia juga mengapresiasi pemerintah daerah yang berperan aktif dalam menekan laju DBD. Seperti mengintensifkan jumantik dan meng-update laporan harian kasus DBD.

“Jadi bisa dipantau. Saya kira itu, kunci utamanya. Peran kepala daerah itu sangat penting agar mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Itu mutlak dilakukan,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Muhammad Ravi

Pos terkait